Seperti film 'Kartini' yang digarap oleh Hanung Bramantyo misalnya. Tak sedikit tim produksi membangun kembali tempat-tempat yang dulu menjadi latar tumbuhnya Kartini di Jepara.
Beberapa tempat yang tidak otentik lagi dibangun ulang. Termasuk otensitas di set lainnya hingga kostum yang dikenakan para pemain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang menarik, tim juga membuat ulang kereta kuda yang kerap digunakan para bangsawan di masa itu. Diakui Hanung, untuk bagian itu saja, ada ratusan juta yang dirogoh untuk membuat properti agar terlihat sempurna.
"Semuanya dipakai dengan baik. Kalau dikira-kira harganya cukup mahal. Sekitar Rp 150 juta setara dengan harga sebuah mobil kecil," imbuhnya lagi.
Sementara itu, cerita filmnya akan mengambil tentang perjuangan Kartini yang amat peduli dengan pendidikan. Lewat tulisan-tulisan yang dipublikasikan lewat kolomnya di publikasi Belanda, serta surat-surat yang ditulis dan kemudian dikumpulkan menjadi beberapa volume buku, kita bisa melihat betapa besar kepedulian Kartini terhadap permasalahan pendidikan, terutama bagi rakyat yang tidak bisa memiliki akses untuk belajar dan terdidik.
"Semakin dalam saya membaca dan belajar soal Kartini, semakin kagum saya terhadap beliau. Problema Kartini jauh lebih filosofis, dekonstruktif, jauh lebih postmodern. Kita diingatkan kembali bahwa orang Indonesia itu ada kemampuan berpikir sejauh itu dan seprogresif itu. Hal itu berarti 'kan ada di DNA kita tetapi kenapa kita sekarang belum sampai ke situ?," tutur Dian Sastro sang pemeran Kartini.
(doc/doc)











































