detikHOT diberi kesempatan untuk bertatapan langsung dan berbincang sejenak dengan sang produser, Osnat Shuhrer pada Rabu (9/11) di Sands Expo and Convention Centre, Singapura. Produser yang juga dikenal lewat film 'Lifted' tersebut mengungkap proses-proses yang dijalani untuk terciptanya 'Moana'.
'Moana' dibuat setelah para tim produksi melakukan perjalanan ke Kepulauan Pasifik. Di sana, mereka mendengar cerita soal legenda masyarakat yang pada akhirnya menginspirasi dalam pembuatan film ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Delia/ detikHOT |
"Kami bertemu banyak sekali orang-orang yang luar biasa dan mendengar cerita-cerita mereka. Kami jatuh cinta dengan petualangan, pengembaraan para pelautnya dan cerita-cerita luar biasa lainnya. Setting-nya juga luar biasa. Kami sangat jatuh cinta dengan kebudayaan dan cerita-ceritanya," lanjutnya tanpa menghilangkan senyuman dari wajah.
Setelah menemukan 'jantung cerita' untuk film yang akan mulai mereka garap, tim produksi pun meminta bantuan dari para ahli tato, seniman, hingga budayawan untuk membawa kisah legenda yang akrab bagi penduduk Kepulauan Pasifik tersebut ke dalam sebuah film animasi. Setidaknya dibutuhkan waktu lima tahun hingga 'Moana' terlahir.
"Kami pergi menjelajah Samoa, Tahiti, Selandia Baru, Hawaii, kami juga mengerjakan pencahayaan, animasi, plot ceritanya. Walaupun ini cuma cerita fiksi, tapi kami ingin tetap memasukkan budaya yang menginspirasinya ke dalam film ini dan menghormatinya," kenang Osnat.
"Kami paling lama menentukan seperti apa cerita yang akan kami sampaikan. Kami percaya kalau cerita adalah yang paling penting dalam sebuah film, baru animasinya. Kami menulis ulang naskahnya, menganalisa apa yang harus ditambah agar filmnya semakin sempurna. Untuk kami cuma cerita, cerita, dan cerita," tambahnya.
Osnat pun berharap kerja keras tim produksi mendapatkan tanggapan positif dari para penonton. Ia berharap 'Moana' sekaligus bisa menginspirasi semua orang yang menontonnya.
"Banyak sekali yang bisa diambil dari film ini. Kuharap para penonton bisa mendengar apa kata hati mereka seperti yang dilakukan oleh Moana. Karena tak peduli berapa umur kita atau jenis kelamin, tapi kata hati adalah siapa diri kita sebenarnya. Harus punya keberanian untuk mengikuti apa kata hati. Film ini juga menunjukka hububngan manusia dengan alam. Sangat penting untung juga memperhatikan alam yang kita tinggali," pungkasnya.
(dal/tia)












































Foto: Delia/ detikHOT