'Jogja Needs A Hero': Rekaman Kepanikan Warga Jogja
Rabu, 09 Mar 2005 07:03 WIB
Jakarta - 'Jogja Needs a Hero' adalah film dokumenter tentang isu badai Harvey yang melanda Yogya. Film pendek ini nantinya akan di putar di Jakarta dan Yogyakarta.Satu lagi anak muda Jogja yang kreatif di dunia film. Cowok kelahiran 24 tahun lalu ini bernama Fajar Nugroho. Saat ini ia masih tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum di salah satu universitas swasta Yogyakarta. Fajar mengaku suka nonton film sejak kecil, bahkan dia masuk ke fakultas hukum juga gara-gara sebuah film lho. Wah sampai segitunya ya.Dari sekedar nonton, hobi filmnya berkembang menjadi keinginan memproduksi film. Tahun 200 lalu, ia bersama teman-temannya iseng membuat sebuah film pendek berdurasi 30 menit, jadilah film JakJogLik. Film yang menjadi karya perdana Fajar ini bercerita tentang sepasang kekasih yang menjalani pacaran jarak jauh. Sejak itu, Fajar memproklamirkan 'Nugrossinema' yang menaungi seluruh kegiatan produksi filmnya.Rupanya keinginan Fajar di dunia ini makin gencar saja. Tahun 2003 ia muncul dengan 'Dilarang Mencium Di Malam Minggu' kemudian menyusul 'Sangat Laki-Laki' tahun 2004. Dan kini, tahun 2005 Fajar bersama Nugrossinema kembali menelorkan 'Jogja Needs A Hero'. Kali ini bukan film cerita yang dibuatnya tetapi film dokumenter yang akan menjadi karya dokumenter perdananya.Fajar mengaku telah terobsesi membuat film dokumenter sejak beberapa waktu lalu. Tepatnya setelah nonton sebuah film dokumenter karya Michael Moore yang bercerita tentang pabrik besi yang hampir tutup. Dan obsesi tersebut kian menggebu setelah menonton Farenheit 9/11 yang menurutnya sangat bagus tidak membosankan.Film dokumenter 'Jogja Needs A Hero' terinspirasi dari kepanikan masyarakat Jogja karena ancaman badai Harvey yang dikabarkan mampu meluluhlantahkan kota Jogja. "Suatu malam, 4 Februari 2005 adikku masuk ke kamarku dengan membawa selebaran dari kepolisian yang bertuliskan 'Peringatan Siaga Satu Untuk Jogja'. Dia terlihat sangat panik, " katanya pada detikhot saat ditemui di salah satu kafe di Jogja. Waktu itu ia mengaku masih cuek, tapi tiba-tiba ia mendapat ide cemerlang. Ia berfikir bahwa kemungkinan besar seluruh masyarakat Jogja panik setelah membaca selebaran tersebut. Maka dengan cekatan ia menyambar handycam warisan ayahnya yang bisa dibilang cukup tua dengan kekuatan batere cuma 5 menit. Dengan modal kamera tersebut ia keluar rumah, dan benar saja hampir sebagian masyarakat terlihat panik. handycamnya.Berawal dari situ, Fajar berniat untuk menjadikan momen-momen tersebut dalam sebuah film. Selama kurang lebih 11 hari, ia berusaha semaksimal mungkin merekam segala bentuk kepanikan dan kejadian yang ada di kota Jogja. Dengan 11 handycam yang dipinjamnya secara bergantian dari teman-temannya, Fajar mampu mengabadikan peristiwa yang dibilang cukup langka itu.Lalu kenapa juga judulnya 'Jogja Needs A Hero'? Menurut cowok yang gemar memakai topi itu, dalam keadaan seperti itu masyarakat Jogja membutuhkan seorang pahlawan yang mampu menenangkan mereka. Dan siapakan pahlawan tersebut? "Mungkin kamu bisa menemukan jawabannya kalau sudah nonton filmnya nanti," kata Fajar mengakhiri cerita. Renaananya, 'Jogja Needs a Hero' akan diputar di Museum TNI Angkatan Darat jl Jend Sudirman Yogyakarta dan di Kine 28 Kemang, Jakarta, tanggal 25 Maret 2005. Kedua pemutaran film itu sama-sama digelar malam hari mulai jam 19:00. (ken/)











































