'Spotlight': Memaknai Kembali Kebenaran di Era Senjakala Media

'Spotlight': Memaknai Kembali Kebenaran di Era Senjakala Media

Candra Aditya - detikHot
Rabu, 17 Feb 2016 11:18 WIB
Spotlight: Memaknai Kembali Kebenaran di Era Senjakala Media
Jakarta - β€œApakah ada yang akan dipecat?” tanya Michael Rezendes (Mark Rufallo), tim jurnalis dari kolom Spotlight dari Boston Globe, ketika Walter Robinson (Michael Keaton), managing editor kolom tersebut memberi tahu bahwa koran mereka akan kedatangan editor baru, Marty Baron (Liev Schreiber). Ketakutan Rezendes bukan tidak beralasan. Pergantian editor bisa jadi berarti pergantian tim yang sudah mapanter, seperti geng Spotlight yang juga terdiri atas Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) dan Matt Caroll (Brian d’Arcy James). Namun kekhawatiran itu tidak terbukti.

Sang editor baru malah memberikan proyek kepada tim Spotlight tentang kasus pencabulan anak-anak yang dilakukan oleh para pastor-pastor Katolik. Namun, Ben Bradlee Jr. (John Slattery) sebagai salah seorang managing editor mengingatkan fakta kepada Baron bahwa pembaca Boston Globe kebanyakan adalah pemeluk Katolik yang taat. Apa yang terjadi jika borok pemimpin mereka diungkap kepada khalayak? Ternyata, Baron tidak peduli. Keputusannya sudah bulat dan tim Spotlight pun mulai melaksanakan tugasnya.

Pada awalnya, mereka hanya menemukan remah-remah informasi. Hampir tidak ada orang yang bersedia untuk memberikan pengakuan. Sampai akhirnya satu per satu korban mulai bermunculan, data-data yang terkubur mulai muncul ke permukaan, dan mereka menghadapi horor yang selama ini disimpan rapat-rapat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€˜Spotlight’ adalah drama jurnalisme yang mempunyai semua yang Anda butuhkan untuk menjadikannya salah satu tontonan paling β€œngegas” tahun ini. Ditulis oleh Josh Singer dan sutradara Tom McCarthy, film ini tidak pernah kehilangan fokusnya. Semua karakter diberikan motivasi sejernih kristal, dan semua fakta yang dipaparkan membuat kisah ini menjadi semakin mencekam setiap menitnya.

Dengan skrip yang mantap, McCarthy kemudian menerjemahkannya dengan kontrol yang paten. Editingnya sempurna. Dalam 129 menit, penonton diajak untuk menyelami kegelapan fakta tentang kasus pencabulan ini dari proses pencarian data, mencari narasumber, usaha mendapatkan bukti, wawancara dengan para korban sampai menit-menit terakhir para tim Spotlight menurunkan laporan mereka. Tom McCarthy bahkan masih sempat untuk menyisipkan momen 9/11 ke dalam filmnya tanpa memecah fokus penonton. Hal-hal masif tersebut memang tidak bisa dibuang untuk mendukung keakuratan setting cerita.

Semua itu dibingkai dengan musik yang mencekam dari Howard Shore, dan barisan pemain yang solid. Mark Rufallo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Liev Schreiber, John Slattery, Brian d’Arcy James, Stanley Tucci sampai Billy Crudup memberikan penampilan gemilang yang membuat Spotlight tidak bisa Anda lewatkan. Bahkan aktor-aktor pendukung tidak terkenal yang tampil baik sebagai korban maupun pelaku juga memberikan penampilan yang meyakinkan sehingga susah bagi Anda untuk tidak larut dalam usaha tim wartawan tersebut untuk mengungkap kebenaran.

Yang juga patut dicermati adalah betapa pentingnya film seperti 'Spotlight' ini dirilis di masa ketika media cetak disebut-sebut tengah memasuki senjakala. Di zaman ketika semua informasi gampang diakses dan usaha penerbitan mulai berpindah ke dunia maya, dan yang dibutuhkan hanyalah hits dan bukannya reportase yang gemilang, film ini benar-benar menampar. Para jurnalis dalam film ini tidak hanya layak disebut pahlawan, namun kegigihan mereka juga mengingatkan kita bahwa jurnalisme yang baik akan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia. Hal yang harus kita camkan ketika semua media justru lebih sibuk untuk membuat berita skandal tidak penting dengan judul-judul yang berlebihan hanya supaya orang tertarik untuk mengakses informasi ini.

β€˜Spotlight’ tidak hanya menghibur dan begitu menginspirasi, namun juga wajib ditonton bagi Anda yang rindu terhadap gambaran nyata atas orang-orang yang berkomitmen dengan pekerjaannya. Orang-orang yang tidak peduli dengan ancaman dan memegang teguh etos kerja mereka demi mengungkapkan kejujuran. Dan, untuk mengingatkan bahwa kadang-kadang kita perlu mengingat hal yang buruk untuk bisa belajar dari kesalahan kita. Film ini hanya tayang di jaringan bioskop Blitzmegaplex dan Cinemaxx

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads