Kyoto Film and Art Festival Hari Kedua: Ketika Barang Bekas Jadi Karya Seni

Laporan dari Kyoto

Kyoto Film and Art Festival Hari Kedua: Ketika Barang Bekas Jadi Karya Seni

Delia Arnindita Larasati - detikHot
Jumat, 16 Okt 2015 21:10 WIB
Kyoto Film and Art Festival Hari Kedua: Ketika Barang Bekas Jadi Karya Seni
oleh Delia
Kyoto -

Kyoto hari ini terasa lebih panas dari hari sebelumnya. Jalanan pun terlihat berbeda karena ornamen-ornamen serba Halloween yang sudah mulai terpampang.

Kyoto Film and Art Festival hari kedua, Jumat (16/10) didominasi oleh pameran-pameran karya seni yang tersebar di berbagai penjuru. Awak media pun kali ini diberikan kesempatan untuk melihat langsung karya-karya luar biasa para seniman Jepang, termasuk mereka yang menggunakan barang bekas sebagai medianya.

Kali ini, kami diajak untuk melihat karya seni sekaligus bernostalgia dengan masa-masa sekolah lewat pameran yang terletak di bekas Sekolah Dasar Rissei, masih di daerah Kyoto. Untuk menuju ke sana, awak media membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan bus sebelum dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 10 menit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panas yang cukup terik tak begitu terasa ketika percikan air sungai jernih di sepanjang perjalanan yang beradu dengan suara gagak terdengar merdu mengiringi perjalanan kami. Sebuah pengalaman baru dan mungkin tergolong sederhana, namun tak akan bisa Anda dapatkan di Jakarta.

Sesampainya di sana, awak media pun langsung disambut dengan sebuah instalasi listrik yang terbuat dari bahan kayu dan kabel-kabel bekas karya Takashi Suzuki. Terdapat sebuah panel di tengah karya yang diberi judul 'Junk Land' tersebut, yang ketika diputar akan membuat lampu-lampu dan benda-benda di sekitarnya menyala.



Setelah puas 'bermain-main' dengan instalasi unik milik pria lulusan Institut Seni Boston jurusan fotografi tersebut, kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke lantai dua untuk melihat karya seni dari barang bekas lainnya. Perhatian pun teralih pada sebuah ruang kelas yang dipenuhi dengan patung-patung binatang unik.

Natsumi Tomita adalah seniman di balik terciptanya karya unik berbahan barang bekas tersebut. Mulai dari kaleng-kaleng bekas yang sudah dipipihkan, roda sepeda, hingga tutup botol digunakan untuk membuat patung monyet, badak, kura-kura hingga cicak.

Natsumi adalah seniman yang dikenal lewat patung-patung binatangnya. Ia berniat untuk kembali memberikan 'kehidupan' bagi barang-barang bekas, yang dulunya berguna untuk membantu kehidupan manusia, tersebut.



Tak hanya Takashi dan Natsumi, awak media pun diajak untuk bergeser ke lokasi baru, yang harus ditempuh selama 15 menit menggunakan bus kota. Pemandangan menarik terlihat di lokasi kedua, Kyoto Aquarium, ketika sebuah ikan raksasa melayang tepat di depan jendela aquarium besar.

Yodogawa Technique, menggunakan sampah-sampah hasil temuannya di sungai Yodogawa untuk menciptakan sebuah karya seni yang diberi nama 'Sazare Fish'. Tak hanya botol-botol dan kaleng bekas, dapat ditemukan juga sandal jepit tanpa pasangan hingga bungkus cokelat yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah ikan raksasa.

Tak berbeda dengan Natsumi, komunitas Yodogawa pun memanfaatkan barang-barang bekas temuannya untuk diciptakan menjadi sebuah karya seni yang berharga. Mereka kembali menciptakan fungsi untuk barang-barang tersebut dari pada melihatnya dihancurkan dan kembali menjadi seonggok barang tak berguna.

Karya-karya ketiga seniman tersebut masih akan dipamerkan di bekas Sekolah Dasar Rissei dan Kyoto Aquarium hingga dua hari mendatang. Masih banyak lagi karya-karya seniman Jepang yang dipamerkan di Kyoto Film and Art Festival 2015 kali ini. So, jangan lewatkan laporan detikHOT di Kyoto selanjutnya, ya!

(dal/kmb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads