Namun, berbeda dengan organisasi bernama Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI). APFI disinyalir adalah 'barisan sakit hati' tujuh produser besar film Indonesia yang merasa tak diakomodir oleh organisasi sejenis sebelumnya, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) pimpinan Firman Bintang.
APFI yang dimotori Chand Parwez Servia (Starvision), Ody Mulya Hidayat (Maxima Pictures), Erick Tohir (Mahaka Pictures), HB Naveen (Falcon Pictures), Ram Soraya (Soraya Intercine Film) , Gope Samtani (Rapi Films) dan Putut Widjanarko (Mizan Pictures) serta Anggota Kehormatan Dede Yusuf mengklaim hanya membantu meramaikan perfilman Indonesia agar bisa lebih maju.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau ditanya kenapa baru sekarang, ya mungkin ini hari baiknya. Ide ini digagas sejak perfilman Indonesia terjadi kemorosotan. Kalau tidak segera berkumpul untuk berpikir ini, jadi apa nantinya," jelas Parwez lagi.
"Lagipula, Undang-Undang tidak melarang orang membuat serikat atau organisasi. Kita bukan tandingan atau apa lah. Coba lihat dari sisi positif bahwa kita ingin merebut lagi apresiasi penonton dan meningkat film Indonesia di pasar global," tegasnya lagi.
Dukungan kepada APFI pun mengalir dari banyak pihak. Salah satunya adalah Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang diketuai Kemala Atmojo.
"Barangkali ini waktunya orang baik berkumpul dengan orang baik. Jangan pernah jadikan organisasi sebagai alat perjuangan pribadi. Dan saya yakin, Pak Ody (Ody Mulya Hidayat) ini bukan prokem (preman) perfilman nasional. Kami BPI, akan terus mendukung," tukas Kemala Atmojo.
Senada dengan rekan-rekannya, produser film 'Comic 8: Casino Kings', HB Naveen menyatakan hal serupa.
"Semakin ramai yang mendukung, semakin ramai cinta. Ada semangat-semangat baru. Perbedaan itu bagus, semakin banyak visi dan misi untuk membangun film," timpal Naveen mengakhiri.
(mif/fk)











































