APFI, Asosiasi Perfilman Baru yang Anti Mengeluh

APFI, Asosiasi Perfilman Baru yang Anti Mengeluh

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Senin, 12 Okt 2015 18:50 WIB
APFI, Asosiasi Perfilman Baru yang Anti Mengeluh
Suasana Jumpa Pers APFI (Iqbal/detikHOT)
Jakarta - Perfilman Indonesia kerap kali dinilai belum mencapai titik maksimal dalam perkembangannya. Kegelisahaan itu jelas dirasakan langsung oleh para pimpinan perusahaan film.

Lewat Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) pimpinan Firman Bintang, tujuh produser di dalamnya merasakan aksi yang kurang mumpuni. Mencoba 'menjemput bola'β€Ž, tujuh produser itu mendirikan organisasi lain bernama Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI).

Adalah Chand Parwez Servia (Starvision), Ody Mulya Hidayat (Maxima Pictures), Erick Tohir (Mahaka Pictures), HB Naveen (Falcon Pictures), Ram Soraya (Soraya Intercine Film) , β€ŽGope Samtani (Rapi Films) dan Putut Widjanarko (Mizan Pictures) sebagai pendiri APFI. Ditambah satu lagi, Dede Yusuf yang didaulat sebagai Anggota Kehormatan. Semangat utamanya hanya satu, daripada mengeluh, lebih baik berbuat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak organisasi film mengeluh. Kurangnya apresiasi penonton Indonesia, layar bioskop sedikit, tidak ada peran pemerintah dan mereka menunggu secercah harapan. Kami nggak mau begitu, kami mau menjadi agen perubahan. Kami tak mau mengeluh, kami mau berbuat," buka Chand Parwez dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Senin (12β€Ž/10/2015).

"Kami di sini mencoba pendekatan berbeda. Kami tidak menyalahkan itu. Apapun persoalannya, APFI siap menyelesaikan dengan menjemput bola. APFI sangat yakin potensi film nasional masih sangat besar," sambung produser film 'Gangster' itu lagi.

Dengan begitu, saat ini APFI membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi para perusahaan film nasional untuk mendaftar menjadi anggota dan badan pengurus.

"Kita punya beberapa kriteria keanggotaan. Yang pasti akan ada Regu Pengawas dan Regu Pengurus, lalu Anggota Aktif, Anggota Non-Aktif serta Anggota Kehormatan. Tentunya berbeda kewajiban dan tanggung jawab. Dengan harapan, APFI bisa menjadi tempat curhat, berkomunikasi dan menyelesaikan masalah para pembuat film," jelas Parwez.

"Syaratnya adalah β€Žperusahaan film atau produser itu sudah memproduksi satu judul film dua tahun sebelumnya atau segera memproduksi dua tahun setelah bergabung," tegasnya lagi.

β€ŽSoal rencana kerja, APFI mengungkap ada lima rencana kerja utama yang siap mereka lakukan. Yakni, menyelenggarakan seminar dan simposium produser berskala internasional, menciptakan peluang produksi film dengan pihak luar negeri, melakukan workshop untuk meningkatkan keterampilkan pekerja film, melakukan riset dan melaporkan secara terbuka keungan APFI secara independen.

Selain itu, gagasan perdagangan terbuka, Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan berjalan mulai tahun depan juga menjadi perhatian APFI. β€Ž Para produser ini berharap, film mereka beserta seluruh pekerja yang terlibat didalamnya bisa terapresiasi dengan baik.

"Kami punya cita-cita kalau film-film kami bukan hanya ditayangkan di luar negeri, tapi lebih luas lagi. Karena produksi kami di sini sudah bisa dibilang di atas rata-rata.β€Ž Jadi, berikan kita kesempatan. Nggak harus selalu dari Barat ke Timur," tambah HB Naveen.

"Ini harapan-harapan besar dari perusahaan-perusahan film nasional. Sebentar lagi kita masuk menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Artinya per Januari akan ada perdagangan global, termasuk SDM (Sumber Daya Manusia) global.β€Ž Untuk itu kita perlu memperhatikan betul kualitas karya dan para pekerjanya," tutup Dede Yusuf sebagai Anggota Kehormatan.

(mif/aay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads