Bukan Tak Mau, Masyarakat Tak Mampu Nonton Film ke Bioskop

Bukan Tak Mau, Masyarakat Tak Mampu Nonton Film ke Bioskop

- detikHot
Kamis, 07 Mei 2015 11:02 WIB
Bukan Tak Mau, Masyarakat Tak Mampu Nonton Film ke Bioskop
Wakil Presiden Jusuf Kalla di diskusi film 'How To Protect & Monetizing IP Rights in the Film Industry' (dok. pri)
Jakarta - Sebuah diskusi tentang perfilman nasional digagas oleh Badam Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Asiosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Membahas tentang perlindungan Hak Kekayaam Intelektual (HAKI) dalam film, diskusi tersebut bertajuk 'How To Protect & Monetizing IP Rights in the Film Industry'.

Secara garis besar, diskusi yang berlangsung di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2015) itu membahas bagaimana sebuah karya film bisa terlindungi dari pembajakan dan mendapat royalti maksimal. Serta, melakukan 'monetizing' (mengkomersilkan) karyanya ke dalam banyak versi.

FOTO: Manisnya Farah Ali Khan, Adik Miller Khan

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, tentu saja tema besar itu menyangkut hal-hal lain yang sudah menjadi akar masalah film Indonesia. Misalnya, ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka diskusi tersebut dengan menyinggung kultur menonton serta bioskop nasional.

"Masyarakat Indonesia itu bukan tidak mau menonton film ke bioskop. Tapi mereka nggak mampu. Karena nggak mampu itulah mereka cari yang murah, salah satu caranya ya membajak," ujar Wapres dengan nada serius.

"Sekarang semua bioskop sudah mahal, mewah. Sekali nonton bisa Rp 50 ribu. Upah buruh sehari kerja langsung habis kalau dipakai nonton ke bioskop," sambung pria yang biasa disapa JK itu.

Persebaran bioskop yang tidak merata di Indonesia juga menjadi perhatian JK. Terutama di luar Pulau Jawa.

"Sekarang kami cari investor untuk buka bioskop murah di daerah nggak ada yang mau. Bioskop yang sekarang ada pun tidak mau membuat. Serba susah jadinya. Makanya pemerintah lewat Bekraf ini harus bisa menyelesaikan masalah itu," pinta JK.

Hal terakhir yang jadi perhatian JK tentang beratnya perjuangan film Indonesia adalah budaya menonton film lokal yang sangat menurun.

"Dulu, saya ajak pacaran pasti ke bioskop. Sekarang nggak lagi. Anak-anak muda berhubungan hanya perlu lewat telepon genggam saja. Padahal di bioskop seru, gelap-gelapan," cerita JK disambut tawa riuh peserta diskusi.

"Cerita film lokal juga kurang kuat. 10 menit pertama sudah bisa ditebak, kalau film Hollywood sampai habis masih penasaran. Terus juga terlalu mengikuti tren. Coba lihat Bollywood, punya identitas. Apapun yang terjadi, yang penting menari, sedih juga menari. Jadi masyarakat India senang menonton," tutupnya disambut tepuk tangan meriah.

(mif/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads