'Bulan di Atas Kuburan': Sebaris Kalimat Pendek yang Menyesakkan Dada

- detikHot
Kamis, 23 Apr 2015 13:40 WIB
Jakarta - Satu waktu ketika saya duduk di bangku kelas 1 SMP, guru bahasa Indonesia saya meminta murid-murid untuk membacakan puisi di depan kelas. Banyak teman saya membacakan puisi-puisi dengan lantang, dari pujangga-pujangga terkenal Indonesia. Giliran saya maju ke depan kelas, saya tak membawa selembar kertas pun contekan puisi sebab saya sudah hapal betul liriknya. Dengan mantap saya berpuisi; Malam Lebaran/ Bulan di atas kuburan.

Hanya satu baris itulah ("Bulan di atas kuburan") isi puisi berjudul 'Malam Lebaran' karya Sitor Situmorang. Selepas membacakan puisi itu saya tertawa terkekeh-kekeh. Teman-teman saya pun yang sempat melongo sesaat setelah saya bacakan puisi itu, kemudian ikutan tertawa terbahak-bahak. Tak ada dari kami yang mengerti betul apa sebenarnya makna dari puisi itu. Kala itu saya hanya bersenang-senang dan sedikit iseng ketika memilih puisi itu untuk saya bacakan. Satu-satunya hal yang saya bisa pahami kala itu adalah, bahwa puisi itu paling mudah untuk dihapalkan.

Terinspirasi dari puisi tersebut, sineas gaek Asrul Sani kemudian menulis sekaligus menyutradarai film berjudul 'Bulan di Atas Kuburan' pada 1973. Saya belum pernah menonton filmnya, namun yang saya tahu film yang diproduseri Sjuman Djaya itu meraih dua penghargaan pada FFI 1975 untuk kategori Pemeran Pembantu Pria Terbaik (Aedy Moward) dan Film Aktuil Masyarakat Terbaik.

'Bulan di Atas Kuburan' versi 2015 besutan Edo W.F. Sitanggang ini adalah film bikin-ulang dari karya Asrul Sani itu. Film ini berkisah tentang para perantau dari Samosir yang hijrah ke Jakarta, kota dengan segala mimpi gemerlapan. Sabar (Tio Pakusadewo, 'Toilet Blues'), Tigor (Donny Alamsyah, 'The Raid') dan Sahat (Rio Dewanto, 'Filosofi Kopi') adalah putera-putera daerah yang memiliki ambisi untuk bisa kaya raya dengan cara menaklukkan kota Jakarta. Sebuah premis yang tuturan kisahnya biasanya berakhir manis di film-film lain; sang tokoh utama sukses, kaya raya dan bahagia. Ada sebutannya sendiri untuk film jenis ini di Indonesia, "film inspiratif".

Namun, tidak demikian halnya dengan film ini. 'Bulan di Atas Kuburan' tak senada dengan cerita-cerita "inspiratif" tentang orang susah yang lantas jadi orang kaya di ibukota. Penulis naskah Dirmawan Hatta ('Optatissimus', 'The Mirror Never Lies') menghadirkan cerita tentang para perantau yang datang ke Jakarta ini dengan sudut pandang yang berbeda; sinis, ironis, juga kejam!

Edo W.F. Sitanggang mengeksekusi naskah film yang ciamik ini dengan tingkat craftmentship yang tak main-main untuk ukuran seorang sutradara debutan. Edo mengemas film ini dengan cara-cara yang bahkan bagi kebanyakan sutradara "senior" tak kunjung dikuasai betul. Pengadeganan, sinematografi, mood film, editing, musik, hingga pagelaran akting dari deretan pemain lakon amat baik saling melengkapi membuat film ini jadi tontonan yang mewah.

Film ini dipenuhi begitu banyak pemain yang hebatnya semuanya tampil maksimal. Bahkan untuk peran-peran pendukung seperti tokoh Bapak Parlente yang diperankan Ray Sahetapy, Ibu Hebring yang sekilas saja dimainkan Meriam Bellina, Remy Sylado sebagai Ketua Partai, Andre Hehanusa (yang secara mengejutkan) mampu tampil mengesankan sebagai Clemen si bos preman, Alfridus Godfred, Mutiara Sani, kesemuanya tampil penuh kesan.

Di film ini pula aktor gaek Tio Pakusadewo bermain tak sekedar sebagai aktor pendukung yang biasanya tampil cuma selewat. Berkat penulisan naskah yang mumpuni serta kepiawaian Tio menghidupkan karakternya, rasa-rasanya tak berlebihan bila ia diganjar penghargaan. Menyaksikan duet aktingnya bersama Ria Irawan yang berperan sebagai istrinya, sulit untuk tak jatuh hati pada mereka berdua; sebuah duet yang tak terlupakan.

Di sisi lain, Donny Alamsyah juga tampil cemerlang. Aktor yang biasanya tampil sebagai pemeran pendukung ini, dalam 'Bulan di Atas Kuburan' bersinar tak kalah terang dengan sang aktor utama, Rio Dewanto. Film ini mempertunjukkan kemampuan terbaik dari keduanya. Sabar, Tigor dan Sahat adalah pungguk-pungguk yang merindukan bulan. Usai menonton, berhari-hari kemudian film ini terus merasuki diri saya, mengendap jauh ke alam bawah sadar. Mendeskripsikan film ini sesulit memaknai puisi 'Malam Kuburan' yang isinya hanya sebaris kalimat pendek itu; ia bisa dibaca namun sulit diterangkan. Saat credit title bergulir, saya tak mampu berkata apa-apa, selain tertegun, terisak penuh derai air mata sambil menahan helaan napas dari dada yang terasa amat sesak. Lama sekali rasa itu pergi.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia

(mmu/mmu)