'Love and Faith': Drama Panjang Penyelamatan Bank

- detikHot
Rabu, 11 Mar 2015 13:40 WIB
Jakarta - Kwee Tjie Hoei (Rio Dewanto, 'Modus Anomali', 'Mursala') duduk di bangku sebuah taman. Ia tengah mengingat-ingat kisah hidupnya di masa lalu. Sepanjang film ia bernarasi kepada kita; ungkapan-ungkapan yang ia sampaikan bak "kata pengantar" setiap kali kita hendak menyaksikan babak-babak kisah hidupnya. Syahdan, Tjie Hoei adalah peranakan Cina yang dibawa serta ibunya hijrah ke Bandung. Saat peristiwa Bandung Lautan Api terjadi ia masih kanak-kanak. Beserta kedua orangtua dan adiknya, Kwee Tjie Ong (saat dewasa diperankan oleh Dion Wiyoko), keluarga mereka terpuruk, sempat luntang lantung mencari tempat tinggal lantaran rumah mereka terendam banjir.

Episode masa kanak-kanak Tjie Hoei hanya sekelebat diceritakan dalam film. Dikisahkan pada masa itu keadaan keluarganya miskin hingga Tjie Hoei tak bisa kuliah setamat SMA. Ia bekerja sebagai guru olahraga di sebuah sekolah Cina. Di sana ia bertemu muridnya yang di kemudian hari bakal ia persunting sebagai istri, Lim Kwei Ing (Laura Basuki, 'Madre', 'Haji Backpacker'). Sepulang ngajar di sekolah, sore harinya Tjie Hoei memberi les private kepada Ing di rumahnya. Saat sesi belajar itu, Ing sering menggoda Tjie Hoei, hingga akhirnya mereka pun berpacaran.

Tjie Hoei bekerja sambil membantu membiayai kuliah adiknya. Ia bersikeras sang adik harus kuliah, agar ada orang penting yang lahir dari keluarganya. Maka, ia pun berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik; alkisah, ia kemudian mendapat pekerjaan di sebuah pabrik garmen. Sang pemilik pabrik menyukai kinerjanya sampai-sampai mau mengirimnya ke luar negeri agar Tjie Hoei mendapatkan pelatihan dan sekembalinya nanti ia bakal dapat jabatan yang menjanjikan. Namun, atas nama cinta pada Ing sang pujaan hati, ia melepas kesempatan itu. Tjie Hoei lebih memilih tinggal di Bandung dan kemudian melamar Ing.

Selepas menikahi Ing, Tjie Hoei dapat kerjaan baru lagi; jadi pegawai sebuah bank. Sebentar, jadi, ternyata, mertua Tjie Hoei adalah salah seorang pendiri Bank NISP (sekarang kita kenal sebagai bank OCBC NISP). Informasi ini sama sekali tak disinggung sebelumnya. Yang jelas, cerita sepak terjang Tjie Hoei bekerja di bank milik mertuanya inilah yang kemudian jadi landasan utama kisah film ini; bagaimana ia membereskan praktik korupsi yang dilakukan segenap direksi, bagaimana ia dimusuhi oleh rekan-rekan kerjanya sampai hampir terbunuh, dan bagaimana ia membangun bank tersebut menjadi kokoh hingga seperti sekarang. Terdengar menarik dan seru bukan?

Sayangnya, kisah yang dibangun dari pondasi cerita yang semestinya thrilling ini tak didukung naskah cerita yang kuat. Boleh dibilang naskah film ini buruk, tak memiliki plot yang mengikat yang mampu menggerakkan cerita dengan terarah. Naskah tulisan Benni Setiawan ('Sepatu Dahlan, 'Madre') yang sekaligus menyutradarai film ini, tak mampu mengantarkan sekuen demi sekuen jadi satu kisah utuh yang enak untuk diikuti.

Rio Dewanto dan Laura Basuki terlihat amat mati-matian menghidupkan karakter yang mereka perankan masing-masing. Dan, bila ada nilai positif dari film ini, itu berkat penampilan mereka berdua yang sayangnya justru malah dikebiri sendiri oleh kedangkalan material naskah yang diilhami dari buku 'Karmaka Suryaudaya: Tidak Ada yang Tidak Bisa' tulisan Dahlan Iskan ini. Potensi besar yang dimiliki Rio Dewanto dan Laura Basuki jadi nampak sia-sia tak termanfaatkan dengan maksimal. Penulis skenario bahkan tidak memberikan dimensi apa-apa terhadap karakter-karakter yang dibuatnya. Beberapa karakter pendukung jatuh jadi karakter karikatur, misalnya seperti tokoh antagonis yang diperankan oleh Verdi Solaiman. Seberapa besar pun usaha yang dikerahkan Verdi untuk menghidupkan karakternya, hasilnya tak mengesankan.

Saya bahkan tak bisa ikut peduli akan nasib yang menimpa hampir semua karakter di film ini, dan kalau sudah begitu rasanya sulit untuk dapat bertahan menyaksikannya hingga usai. Secara tata produksi film ini jug tak tergarap dengan cukup baik. Usaha pembuat film menghadirkan mobil-mobil tua yang terlihat sesekali melintas di atas aspal kota merupakan satu-satunya trik yang dipakai untuk menghidupkan nuansa Bandung tempo dulu, dan itu harus diakui bukanlah perkara mudah. Namun, menampilkan mobil-mobil kuno saja untuk merekonstruksi nuansa jadul tidaklah cukup, diperlukan pula tampilan set yang meyakinkan. Gambar-gambar suasana kota lebih sering terlihat bak setting drama panggung; sempit, padat, artifisial.

Sinematografi dari Edi Michael memberi sedikit nilai tambah terhadap film ini. Selebihnya, rasanya sulit sekali untuk diapresiasi. Di akhir film, tokoh utama kita diceritakan hampir gila. Namun, di pengujung durasi dengan entengnya film ini ditutup begitu saja. Sungguh sebuah "kejutan" setelah 100 menit dibawa ke sana ke mari dengan sangat melelahkan.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia

(mmu/mmu)