Selama berkarier sebagai produser dan sutradara di balik layar, Lola sudah menghasilkan film Betina (2006), Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Sanubari Jakarta (2012), Negeri Tanpa Telinga (2014) dan 'Novel tanpa huruf R' (2003). Dari film-film tersebut banyak mengangkat isu hangat, misalnya tentang TKI, kotornya politik, hingga kritik sosial.
Film-film Lola ternyata juga membuat gerah sebagian pihak. "Pasti ada tantangan, kayak diancam. Contohnya ya film terakhir saya 'Negeri Tanpa Telinga', pas buat itu ada yang menjegal. Pas bikin film tentang TKI, ada LSM yang nyinyir. Saya kan paparkan hal yang nyata biar semua orang yang nggak tahu jadi tahu," ujarnya saat ditemui di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2014) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya banyak didukung orang-orang yang sehati sama saya. Saya nggak buat kriminal juga. Mudah-mudahan saya tetap maju dengan tema kemanusiaan, karena tema itu selalu menarik untuk saya," kata wanita berusia 37 tahun tersebut.
Dalam waktu dekat ini Lola mengaku akan menjadi pembicara di Berlin untuk diskusi soal film-film produksinya.
(ich/mmu)










































