Produksi 'Haji Backpacker', HB Naveen Ikuti Panggilan Hati

Produksi 'Haji Backpacker', HB Naveen Ikuti Panggilan Hati

- detikHot
Senin, 06 Okt 2014 18:31 WIB
Produksi Haji Backpacker, HB Naveen Ikuti Panggilan Hati
HB Naveen (Han Kristi/detikHOT)
Jakarta - Film 'Haji Backpacker' yang pengambilan gambarnya dilakukan di sembilan negara tentunya menghabiskan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun Eksekutif Produser Falcon Pictures HB Naveen punya alasan kuat untuk mewujudkan film ini ke hadapan penonton.

"Saat saya baca sinopsisnya, ini luar biasa. Saya pikirkan dua hari karena ini akan syuting 9 negara, cuma saya selalu ikuti sanjaya (suara hati) saya. Kita jalan aja ikhlas sama Tuhan," kata Naveen kepada detikHOT.

Berangkat dari keikhlasan untuk membuat sebuah film yang baik, Naveen tidak ingin mengukur keyakinannya dari faktor uang dan kesuksesan. Ia yakin sebuah film yang baik dan dibuat dengan maksimal akan memberikan kepuasan batin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena dua hal itu (uang dan sukses) tidak ada yang tahu. Tapi saya tahu proses ini akan menggembirakan. Saya tahu ini bisa jadi karya yang baik," lanjut Naveen yang mengeluarkan biaya produksi lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 12 miliar itu.

Penonton mungkin hanya menyaksikan 'Haji Backpacker' dengan durasi kurang dari dua jam. Tapi, di balik tiap detik adegan yang muncul, dibutuhkan persiapan dan proses yang sangat panjang. Penggarapan skenario dipersiapkan selama enam bulan oleh Jujur Prananto, Danial Rifki (sutradara) dan HB Naveen sendiri yang ikut memberikan masukan dan menuangkan pengalamannya.

"Ada adegan orangtua didorong (di kursi roda) sama anaknya (untuk berwudhu), itu punya mitos di India namanya Syawan Kumar, seorang anak membawa bapak sama ibunya yang tidak bisa melihat keliling tempat-tempat sejarah, ibadah. Setiap orang India mau melihat anaknya seperti Syawan Kumar itu. Dimasukkan hal-hal seperti itu, mitos-mitos itu masuk biar filmnya kuat. Lalu sufisme, berekspresi tanpa ngomong. Kalau kita ikhlas, kita lepas kepada Tuhan kita nggak sedih (penggambaran adegan balon udara yang meledak)," jelasnya.

Naveen juga memiliki alasan kuat untuk mempercayakan proyek besar 'Haji Backpacker' kepada sutradara Danial Rifki. Ia melihat potensi besar dari sutradara 32 tahun itu. Apalagi sebelumnya mereka telah bekerjasama di film 'La Tahzan'.

"Danial punya bakat mencari keindahan dalam keramaian, makanya dia paling cocok untuk film-film syuting di luar, di 'La Tahzan' sudah membuktikan di Jepang. Danial punya bakat untuk jadi sutradara terbaik, makanya saya kasih kesempatan yang lebih luas," lanjut pria yang mengawali karier di dunia periklanan itu.

'Haji Backpacker' juga mengalami post-production yang panjang. Naveen mengaku mengikuti tiap prosesnya dengan detail agar film tersebut memiliki 'taste' sesuai dengan yang ia inginkan.
Β 
"Colourist mengerjakan satu reel itu 12 jam, ditambah sama kami lagi 10 jam. Satu-satu dilihat warnanya cocok tidak, break 30 menit. Jadi satu-satu frame. Satu detik ada 24 frame. Sehari 10 jam grading saja, jadi proses post production itu 50 persen dari pembuatan film. Untuk saya satu detik atau satu frame itu penting," ujar pria kelahiran 16 Desember 1971 itu.

(ich/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads