'The Look of Silence': Menyusuri Jejak Luka

'The Act of Killing' Jilid Dua (2)

'The Look of Silence': Menyusuri Jejak Luka

- detikHot
Rabu, 10 Sep 2014 13:28 WIB
The Look of Silence: Menyusuri Jejak Luka
Jakarta - Luka itu berjejak. Tak hanya dalam ingatan, tapi juga pada para pelaku sejarah yang masih ada. Tapi, apa itu sejarah? Sejarah sudah dibelokkan, kata Adi Rukun pada anaknya yang masih SD yang pulang dari sekolah dengan cerita tentang peristiwa yang kemudian dikenal sebagai G30S dari gurunya. Itu pula yang dikatakan oleh Adi pada para pelaku pembantaian kakaknya, Ramli berpuluh tahun silam, pasca 1965 itu.

Adi adalah "tokoh" baru dalam film dokumenter Joshua Oppenheimer setelah 'The Act of Killing' (Jagal). Film Joshua kali ini berjudul 'The Look of Silence' (Senyap) yang langsung bergema keras dari panggung Festival Film Venesia dengan 5 penghargaan yang diraihnya. Masih mengangkat isu yang sama, kali ini Joshua menggeser perspektifnya ke sisi keluarga korban.

Yang mengejutkan, Joshua masih bermain-main dengan bentuk, yang membuat filmnya lebih menegangkan, atau setidaknya sama, dengan fiksi. Pada 'The Act of Killing' Joshua bertutur dengan teknik yang rekonstruksi yang canggih: para subjek dokumenternya itu tengah membuat film dokumenter. Untuk 'The Look of Silence' Joshua mengotak-atik cara bertutur yang tak kalah menggelitik: ia mengkonfrontasikan video yang merekam pengakuan para pelaku pembantaian orang-orang PKI kepada keluarga korban! Dalam hal ini, Adi adalah subjek utama di panggung dokumenter ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adi, ayah bagi dua anak yang menginjak remaja, adalah seorang tukang kacamata. Fakta ini sudah langsung mencegat kita sebagai metafora yang meminta dimaknai. Tapi, sebelum kita berpikir lebih jauh, perhatian lebih dulu akan tersita oleh fakta-fakta lain yang terkesan absurd, namun memberi makna tambahan bagi film ini. Ibu Adi adalah perempuan yang mengklaim berusaha 100 tahun, dan meyakini bahwa suaminya --ayah Adi-- telah berusia tak kurang dari 140 tahun!

Bagaimana kira-kira perasaan Anda menyaksikan perempuan yang sudah serenta itu sehari-harinya merawat suaminya yang jompo, nyaris tak bisa melihat dan mendengar lagi? Ia memandikannya, membedakinya, dan sesekali menanyainya, dengan suara teriakan yang diulang-ulang, "Apakah kamu masih ingat anak kita, almarhum Ramli?" Tentu saja ia tak bisa mendengarnya. Namun, ajaib, sesekali ia masih bisa mendengar, misalnya ketika diminta oleh Adi menyanyi. Di balik keseharian yang tampak "normal" itulah luka tersimpan, dalam kepikunan sang ayah, di balik tatapan kosong sang ibu, dan di sepanjang kebisuan sang adik, Adi, yang kemudian memutuskan untuk memecahkannya.

Film dibuka di sebuah ruangan yang sunyi. Adi duduk di depan televisi. Ia tengah memutar video (yang direkam oleh Joshua) yang memperlihatkan dua lelaki tua, Inong dan Amir Hasan tengah "napak tilas" saat mereka membantai orang-orang PKI dulu. Salah satu yang mereka bantai adalah Ramli, dan konon eksekusi terhadap kakak Adi itu paling kejam dan brutal. Dengan gamblang dua lelaki itu mengisahkan sambil memperagakannya. Pada video yang lain, Inong dan Amir memperlihatkan buku berjudul 'Embun Berdarah' yang mereka tulis untuk mengabadikan aksi pembantaian mereka. Semua itu direkam pada 2003. Pada 2011, Adi mendatangi Inong sebagai seorang tukang kacamata. Sambil memerika mata Inong yang kini telah berusia 70 tahun, Adi pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar masalalu seperti terekam dalam video Joshua itu.

Inong yang awalnya menjawab dengan penuh wibawa dan rasa bangga, lama-lama jengkel dan marah ketika pertanyaan Adi dinilainya "semakin dalam" dan "masuk ke politik". Reaksi yang sama juga harus dihadapi Adi ketika ia mendatangi rumah Amir yang sudah meninggal. Ia ditemui oleh istri dan dua anak lelakinya. Mereka mengaku tak tahu-menahu perihal apa yang dilakukan suami dan ayah mereka di masa lalu. Ketegangan semakin menjadi ketika Adi memperlihatkan video yang berisi pengakuan Amir mengenai buku Embun Berdarah.

Film ini mengajak penonton hadir dalam pertemuan-pertemuan Adi dengan para pembantai kakaknya, yang tak jarang berakhir dengan ketegangan seperti itu. Kita ikut tersiksa dengan dialog mereka yang patah-patah dan selalu berakhir dengan "akward moment" yang menghempaskan kita dalam situasi kaku, serba salah, menyakitkan. Kita seperti dilibatkan dalam obrolan yang tak ingin kita dengar, dan dalam hati kecil kita yang paling dalam, anehnya (atau sebenarnya tidak aneh?), kita tak selalu berada di pihak Adi. Dalam arti, situasi yang berkembang kadang membuat kita "bisa memahami" posisi para pembunuh itu, yang kini terpojok, merasa bersalah, bahkan mungkin "tak berdaya" di hadapan Adi, yang datang sebagai seorang "penggugat", seolah-olah meminta pertanggungjawaban, yang membuat para pembunuh itu repot mencari penyangkalan, meradang, sampai akhirnya kehabisan kata-kata, hanya bisa terdiam dan tercenung, terhempas dalam keterasingan pada dirinya sendiri.

Dan, dengan cerdik, Joshua mengantisipasi itu sejak awal. Ia sadar betul, bahwa membuat film tentang pembunuhan massal "bagaikan berjalan di tengah medan ranjau penuh dengan pernyataan klise". Artinya, bila tak cermat dan hati-hati, akan terjebak pada "menipulasi" penciptaan tokoh protagonis heroik yang serba suci. Dalam hal ini, betapa mudahnya penonton akan otomatis bersimpati pada Adi, dan bapak-ibunya yang renta. Maka, Joshua menyiasatinya dengan, meminjam istilah dia sendiri, "menjelajahi kesenyapan itu sendiri". Film ini tak hanya menangkap ekspresi-ekspresi kosong-ngelangut Adi ketika menyaksikan video rekaman kesaksian para pembantai kakaknya, atau betapa ia tak bisa menahan airmatanya ketika bertemu langsung dengan mereka. Namun, dengan "adil" film ini juga memberi tempat pada wajah-wajah para pembunuh yang kehilangan kata-kata, sehingga hanya bisa membuang muka, menghindari tatapan mata Adi. Di sinilah Joshua secara mengejutkan menunjukkan pada kita, bahwa para pembunuh itu pun menyimpan kesenyapan mereka sendiri.

Menjelajahi kesenyapan itu; Joshua benar sekali dengan kata-kata tersebut, ketika para pelaku pembantaian itu selalu berkata bahwa yang lalu biarlah berlalu, semua telah menjadi sejarah (tapi, sekali lagi, apakah sejarah itu?), luka telah mengering dan jangan dikoyak lagi....maka film ini menjadi navigasi yang diperlukan untuk menempuh medan ranjau klise tadi. Bahwa, menjadi penyintas, survivor, orang yang bertahan dari sebuah penghancuran, tak serta-merta dipandang dalam posisi yang baik dan suci. Tapi, film ini juga mengingatkan bahwa ada saat untuk berhenti mengatakan, "semua sudah berlalu". Kita harus berhenti, dan mengakui ada kehidupan yang telah dihancurkan dan memaksa diri untuk mendengarkan kesenyapan datang setelah pengakuan itu.

Begitulah, film ini tak hitam-putih dalam usahanya memahami arti menyintas dari sebuah kekejian dan menjalani hidup yang dihancurkan oleh kekerasan massal yang kemudian disempurnakan dengan teror pembungkaman. Kita berkali-kali melihat kilatan kemarahan, dan mungkin juga dendam, dari sinar mata Adi yang merah berkaca-kaca. Dan, kita menghargai kejujurannya untuk tak menyembunyikan itu. Tapi, kita lebih dibuat terharu oleh usahanya yang terus-menerus untuk rendah hati, memaafkan para pembantai kakaknya. Sebab, ia datang bukan dengan dendam. "Kalau saya dendam saya tak akan ke sini," ujarnya dengan suara yang seolah nyaris tertelan kembali.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads