Diputar di Washington DC, 'Sokola Rimba' Tarik Minat Ratusan Penonton

Laporan dari AS

Diputar di Washington DC, 'Sokola Rimba' Tarik Minat Ratusan Penonton

- detikHot
Senin, 08 Sep 2014 13:28 WIB
Diputar di Washington DC, Sokola Rimba Tarik Minat Ratusan Penonton
Poster Sokola Rimba di Washington DC (Shohib/detikHOT)
Washington DC - 'Sokola Rimba', film besutan Riri Riza dan Mira Lesmana yang berkisah tentang perjuangan anak-anak rimba di pedalaman Jambi dalam mengakses pendidikan dasar, ditayangkan di Washington DC, Amerika Serikat. Diputar dalam rangkaian ASEAN Film Festival yang diselenggarakan oleh The ASEAN Women Circle (ACW), film tersebut menarik minat cukup banyak penonton.

Pemutaran film yang dibintangi aktris ayu Prisia Nasution itu dilangsungkan di Meyer Auditorium, Freer and Sackler Gallery, Minggu (9/7/2014). Sekitar 250 penonton menyaksikan film tersebut, dan mayoritas dari mereka merupakan masyarakat setempat non-warga Indonesia.

Pemutaran film di Meyer Auditorium tersebut merupakan bentuk apresiasi tersendiri dari pihak galeri. Menurut mereka, film yang dinilai kurang layak tidak akan diputar di auditorium.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tidak semua film dalam rangkain ASEAN Film Festival diputar di auditorium. Kurator galeri menilai bahwa film Sokola Rimba berkualitas sehingga layak diputar di auditorium,” terang pejabat penerangan KBRI Washington DC, Mukti R. Setianto.

'Sokola Rimba' merupakan film adaptasi dari kisah nyata Butet Manurung, seorang aktivis sosial yang bersama kawan-kawannnya mendirikan sekolah alternatif yang diberi nama Sokola Rimba. Lewat sekolah itu, Butet dan kawan-kawan mengajarkan membaca dan berhitung kepada anak-anak di pedalaman hutan di Jambi.

Tak sedikit tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan misi itu, antara lain kepercayaan warga setempat bahwa pendidikan modern adalah kutukan yang membawa malapetaka. Kepercayaan itu membuat para orang tua melarang anak-anak mereka belajar ilmu pengetahuan modern dan menyulitkan Butet dan kawan-kawan mendapatkan murid.

Film itu dengan getir menggambarkan bagaimana ketidakmampuan membaca warga setempat dimanfaatkan oleh orang luar yang ingin mengeksploitasi tanah adat mereka. Mereka menyetujui perjanjian dengan membubuhkan cap jempol di atas sebuah kertas perjanjian yang tidak mereka mengerti artinya karena ketidakmampuan membaca. Dan imbalan yang mereka terima untuk eksploitasi tanah adat itu hanyalah barang-barang sederhana seperti biskuit dan rokok.

Seperti karya Riri Riza yang lain, yaitu 'Laskar Pelangi', Sokola Rimba juga diperankan oleh para pemain yang merupakan penduduk setempat. Karena itu, tak mengherankan jika akting para pemainnya terasa agak kaku, sebagaimana dinilai oleh salah seorang penonton, Bart Thanhauser. Meski begitu, Bart yang merupakan warga negara AS ini berpendapat film tersebut cukup menarik.

“(Film itu) cukup menarik karena penonton diberi kesempatan untuk melihat budaya dan wilayah yang sangat unik,” ujarnya.

Film berdurasi 90 menit yang rilis tahun 2013 itu meraih penghargaan Film Terpilih Piala Maya 2013 untuk kategori Film Panjang/Bioskop. Adapun Butet Manurung telah menerima beberapa penghargaan berkat perjuangannya dalam memberikan pendidikan bagi orang-orang pedalaman, antara lain Roman Magsay-say (2014), Social Entrepreneur of the Year oleh Ernst and Young (2012), dan Young Global Leader oleh World Economic Forum (2009).

(ich/ich)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads