Lola Amaria, Masuk Industri dengan Karya yang Bernilai

Wawancara Eksklusif (2)

Lola Amaria, Masuk Industri dengan Karya yang Bernilai

- detikHot
Rabu, 03 Sep 2014 14:25 WIB
Lola Amaria, Masuk Industri dengan Karya yang Bernilai
Jakarta -

Lahir di Jakarta, 30 Juli 1977, kiprah panggung Lola Amaria berawal dari sinetron 'Penari' karya sutradara Nan Triveni Achnas. Setelah wajahnya menghiasi berbagai sinetron lainnya, ia pun tampil di layar lebar lewat film berjudul 'Tabir' (2000). Namanya semakin berkibar dan dikenal saat membintangi 'Ca Bau Kan' karya debut sutradara Nia Dinata. Tidak banyak sutradara perempuan di Indonesia, dan lebih sedikit lagi aktris yang mengembangkan minatnya menjadi sutradara. Lola Amaria secara mengejutkan berani merilis debut penyutradaraannya pada 2006 lewat film berjudul 'Betina'. Memang tak beredar di bioskop, namun film tersebut cukup menyita perhatian publik serta para pengamat dan kritikus. Pengamat perfilman Indonesia Shandy Gasella juga menyinggung soal film tersebut dalam wawancara di kantor Lola di Cipete, Jakarta Selatan. Berikut bagian kedua dari petikan perbincangan tersebut:

Β 

Menurut saya, debutmu sebagai sutradara di 'Betina' adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap industri film di Tanah Air pada masa itu. Film itu dibuat dalam format video, tidak diedarkan di bioskop, dan filmnya sendiri "arthouse", benar-benar kental sekali rasa indie-nya. Setelah itu kamu membuat 'Minggu Pagi di Victoria Park', 'Kisah 3 Titik', 'Negeri Tanpa Telinga', boleh cerita bagaimana proses kreatifmu berkembang dari waktu ke waktu?

'Betina' itu kan film yang sangat personal, film pertama, bikinnya dua tahun, setahun pertama uang habis, tapi belum kelar, di skenario masih ada setengah lagi, akhirnya nyari uang dulu, tahun depannya baru diterusin. Kebayang dong semuanya udah berubah. Saking kepengennya punya karya gitu ya, semua orang belum ada yang percaya, karena tahunya kan aku pemain film, dapetin sponsor juga susah, apalagi ceritanya arthouse gitu, hanya beberapa orang yang ngerti. Bioskop 21 pun nggak bisa nerima karena formatnya bukan seluloid. Akhirnya kami mengedarkannya ke kampus-kampus dan festival. Secara value itu dapet banget, tapi secara materi sama sekali enggak. Setelah itu mikir, gila kalau bikin film jenis begini lagi gue mau makan dari mana? Harusnya sih aku nggak mikir sepicik itu, tapi memang realitas harus dipikirin dong. Kita perlu hidup, perlu uang, nggak boleh menyangkal, ah gampang, tenang, enggak. Bila aku anak orang kaya yang punya banyak uang sih nggak apa-apa, aku bakal terus bikin film arthouse. Tapi kan mikir ke depan, gila, panjang gitu mikirnya. Tapi, aku nggak mau juga melacur; melacur dalam arti bikin film yang ecek-ecek, sembarangan, begitu dapat uang selesai. Pada akhirnya aku masuk ke industri ini, tapi dengan karya yang juga bernilai.

Apa yang dilakukan kemudian?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka kemudian aku mencari kasus di masyarakat yang kira-kira hot itu apa. Saat itu isu soal TKI. Karena memang belum pernah ada film tentang TKI, risetnya cukup panjang, dan hasilnya mengubah paradigma orang lain di mana ketika orang punya anggapan bahwa TKI itu disiksa, diperkosa, nggak dibayar, kami bikin yang sebaliknya. Sebab, di Hong Kong memang ada yang seperti itu. Tapi aku tetap menyindir pemerintah; devisanya ke mana? Artinya, begitu masuk industri, isi filmnya juga punya value buat orang lain. 'Kisah 3 Titik' ide awalnya dari demo-demo buruh. Kenapa sih demo mereka selalu nggak berkesudahan? Kalau nggak upah naik, terus aturan, outsourcing, ada banyak banget yang tidak terselesaikan. Nah, itu juga riset ke tiga tempat, ke buruhnya, ke pengusahanya, dan ke pemerintah. Dan kebetulan pada saat itu memang Kementerian Tenaga Kerja mendukung secara finansial, jadi kami nggak mikir masalah uang dari mana, baliknya berapa, budgetnya cukuplah untuk membuat film yang kita inginkan, dan itu menyenangkan.

Kenapa yang itu nggak disutradarai sendiri?

Aku mengambil Bobby Prabowo sebagai sutradara karena aku ingin memberi kesempatan kepada sutradara baru yang lebih bisa berkembang nantinya. Aku tetap kontrol sebagai produser, namun segala ide, penulisan kreatif, aku ikut juga di situ supaya masih terjaga semuanya, selain membuka kesempatan buat director baru. Ada hal lain juga sebagai pertimbangannya bahwa aku udah pernah bikin tentang TKI sebelumnya, masa dua kali bikin, kan berkutat di situ nggak menyenangkan. Eh, sebelumnya 'Sanubari Jakarta' sih tentang LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) sebelum 'Kisah 3 Titik'. Kalau yang satu itu prosesnya dari ngomong-ngomong ngopi-ngopi bareng teman-teman, itu lumayan hits sih pada waktu itu karena omnibus juga masih baru. Itu juga film indie yang kami danai sendiri masing-masing director-nya ada 10 orang, lalu tiba-tiba kami semua kaget bioskop 21 bisa nerima film jenis begitu, itu blessing in disguise juga, ternyata bisa menjadi...bukan pionir sih, tapi bisa menjadi panutan buat director lain untuk bikin yang serupa. Kemudian kan ada 'Rectoverso', 'Hi5teria', dan lain-lain, itu cukup senang sih. Dan aku ngambilnya waktu itu memang acak, ada artis, ada sutradara, ada orang biasa, kami gabungin, jadinya seperti itu, dan temanya LGBT pula! Kayaknya nggak mungkin banget bisa diputer di bioskop, tapi ternyata bioskopnya mengizinkan. Kami kan berbicara tentang kemanusiaan, hal-hal yang universal, bahwa siapa pun berhak jatuh cinta, siapa pun berhak dihargai even itu LGBT yang selama ini semua menutup mata. Mereka ada. Ketika film ini tayang, banyak yang pada nunggu DVD-nya rilis karena pada takut nonton (di bioskop). Sebenarnya buat apa takut, sebab menurut riset aku, ada sekitar lebih dari 1,5 juta orang LGBT di Jakarta aja. Terakhir di bioskop ada 'Selamat Pagi Malam', itu kan manis ya, maksudku Lucky (Kuswandi) bikin film yang menurutku dia tahu banget dunia itu. Terus dia juga bikin series di Youtube yang 'CONQ' itu, kan bagus, dia tidak menghujat siapa pun tapi berbicara bahwa mereka ada, itu humanis banget. Orang Indonesia terkadang suka munafik, tapi ya itulah Indonesia Raya.

Dalam 'Novel Tanpa Hurup R' kamu jadi produser sekaligus pemain, dalam 'Betina' kamu jadi sutradara namun tidak ikut bermain, dalam 'Minggu Pagi di Victoria Park' kamu jadi sutradara sekaligus ikut bermain, di 'Kisah 3 Titik' kamu ikut bermain juga, dalam 'Negeri Tanpa Telinga' kamu tak ikut bermain. Apa sih pertimbanganmu untuk memutuskan ikut atau tak ikut bermain dalam film yang kamu buat sendiri?

Di 'Betina' aku sebagai produser, director, itu memang karena pakai uang sendiri ya, jadi nggak mau uang itu diatur orang lain, maka aku harus jadi produser dan nge-direct. 'Novel Tanpa Hurup R' waktu itu Aria (Kusumadewa) yang minta aku main, jadi mau nggak mau ya harus mau padahal posisi produser juga berat pada saat itu. 'Minggu Pagi di Victoria Park' awalnya sih ke sutradara, tapi produsernya, Bu Dewi bilang, lo tuh ngerti banget masalah ini, mendingan lo main deh. Alasannya cukup masuk akal, tapi di luar itu karena budget juga sih. Jadi kalau misalnya aku main juga at least dapatnya orang yang sama seperti tiket pesawat, hotel, segala macam nggak orang lain lagi, dan karena aku menguasai persoalan jadi lebih enaklah, lebih ngerti dan paham. Nah, di 'Kisah 3 Titik' menterinya yang minta bahwa yang main harus aku, padahal aku udah nggak mau main, mau konsentrasi jadi produser aja, eh malah diminta nge-direct juga. Aku bilang kalau nge-direct nggak sanggup bila harus sambil produserin dan main juga, itu pasti capek banget. Aku harus milih deh, aku produserin, lalu aku nunjuk orang lain untuk nge-direct, tapi saat itu aku tetap aja diminta main. Katanya aku ikonlah segala macem. Kemudian kupikir, oh ya udahlah produserin dan main nggak terlalu berat, yang paling berat itu nge-direct dan sambil main juga, itu yang terjadi di 'Minggu Pagi di Victoria Park', sulit untuk terulang lagi kecuali aku punya co-director yang kuat ya, dan budget yang besar.

Setelah menyutradarai sekaligus menulis skrip 'Negeri Tanpa Telinga' mana yang lebih menyenangkan, menulis atau menyutradarai? Mungkinkah suatu saat kamu bakal menulis skrip untuk sutradara lain?

Enggak, nggak bisa kayaknya. Ini emang karena udah tahu banget apa yang mau dibikin, tapi emang aku nggak bisa nulis awalnya. Makanya manggil penulis, Mas Indra Tranggono, dia budayawan dari Jogja, dan genrenya kan satire. Ketika ngobrol aku bilang ke Mas Indra, idenya gini ya, kalau dibikin drama, dramanya komedi penuh sindiran, terus dia ngerti apa yang aku mau. Langsung jadi draft 1, aku minta revisi, draft 2 sampai draft 3 aku ngerasa masih ada yang belum sreg, akhirnya aku minta waktu agak lama untuk revisi sendiri, revisi dari mulai fakta, angka, jumlah, itu semua kan nggak boleh salah ya, itu dikumpulin baru strukturnya dibetulin. Mulai draft 4 udah aku sendiri yang revisi. Memang sedari awal di press conference aku bilang ini bukan hal yang baru, kalau misalnya kalian semua mengikuti berita politik, ini basi, tapi ya inilah negara kita, karena dalam film kan nggak bisa kita menyuplik seperti dokumenter ngambil plek-plekan, harus didesain nama tokoh-tokohnya, nama lembaganya, nggak boleh pakai nama asli kan, semua diciptakan, itulah kreatifnya. Kemudian kasusnya juga nggak bisa semua masuk, harus dipilih yang mewakili yang paling diingat orang. Bila misalnya ketika film ini diluncurkan lalu ada komentar pro dan kontra, ada yang bilang; ah biasa aja, dari mulai filmnya biasa aja, keren, keren banget, bagus, nggak jelas, ada juga yang bilang ini cuma kumpulan dari berita-berita di TV, ada yang bilang storytelling-nya lemah, ada banyak sekali komentar. Ketika kami mengumpulkan itu, kami nggak boleh kepancing karena film punya nasibnya sendiri. Justru dari situ kami belajar nggak semua penonton punya opini yang sama. Ini bukan hal baru tapi me-remind masyarakat supaya di kabinet baru nggak terjadi lagi kasus korupsi. Seperti kita lempar, Indonesia nih, negeri tanpa telinga, kita udah cuek nih mau ada kasus apa juga sebodo amat, nah sekarang KPK yang paling dipercaya masyarakat untuk memberantas korupsi kita support dong. Dengan cara apa? Ya filmlah salah satunya, karena aku bergelut di film dengan cara ngasih tontonan yang mungkin bisa membuat orang sadar, atau mungkin juga enggak, tapi kan kalau mikir muluknya, gila aja nggak mungkinlah sebuah film bisa mengubah tabiat orang atau sistem yang telah berjalan dengan sedemikian lama. Ya paling nggak ini yang bisa kami berikan. Filmnya jadi komedi soalnya temanya udah berat, kita kayak ketawa-ketawa nyinyir gitu, menertawakan keadaan, itulah Indonesia Raya. Namun bila kami bermaksud menyindir tapi nggak ada yang kesindir, itu kan udah parah. Nah, kemarin aku ditelepon Pak Ahok, beliau bilang, "Saya mau nonton film Anda, saya mau mengajak pejabat DKI eselon 1, 2, lurah, camat untuk nonton." Oke. Ini hari Kamis (21 Agustus 2014) kita mau nonton.

Apa nasihat terbaik yang pernah kamu dengar sepanjang hidupmu?

Jujur. Jadi, selalu ya dari kecil itu orangtua menanamkan ide pokoknya jujur, itu penting banget. Bila diberi kepercayaan untuk bayar SPP, bila ada kembalian pasti dikembalikan, atau hal apa pun nggak cuma uang, misalnya masalah waktu, bila di sekolah (guru-guru) ada rapat lalu harus pulang, aku bilang ke orangtua, jangan ngakunya tetap sekolah padahal ternyata diliburkan karena rapat. Sebenarnya jujur itu nggak berat, yang berat itu bila kita nutup-nutupin ya. Itu sampai sekarang kebawa manfaatnya, karena dengan jujur apa pun jadi lebih nyaman aja sampai akhirnya membuat karya pun harus jujur, nggak boleh bohongin publik.

Suka nonton karya sendiri nggak di bioskop, melihat respons audiens selain di gala premiere?

Iya, aku biasanya suka menyelusup, tapi lebih untuk mendengar reaksi penonton. Kadang-kadang begini, bila di bioskop A, oh bagian ini paling diketawain, kok di bioskop B nggak ada yang ketawa ya? Nah, itu kan berbeda seleranya. Ada beberapa bagian kayak rata gitu (tertawa). Aku kemarin menyeludup di Megaria, dan Pondok Indah.

Menurutmu apa yang membuat sebuah film itu bagus? Adakah kualitas tertentu yang harus dimiliki sebuah film?

Bagus atau jelek itu relatif, kuat atau lemah itu relatif. Tapi yang paling penting film itu punya tiga unsur; estetika, etika, logika, kemudian film harus bisa komunikatif dengan penonton. Kalau kualitas kan lebih ke etika, estetika, artinya kualitasnya harus bagus, logika, masuk akal nggak kalau seorang tokoh misalnya, dia perempuan bangun tidur tapi make up-nya tebel, pakai bulu mata palsu, itu kan nggak masuk akal, kecuali memang ada sesuatu yang digarisbawahi. Estetika itu kan lebih ke teknis, warna baju, warna background, dan set-nya itu kan menggambarkan estetika pembuatnya. Kemudian ruangnya segala macam karena film itu merupakan seni yang paling bungsu di mana semua seni tergabung di situ dari mulai seni rupa, seni akting, seni musik, fotografi, penulisan, dan lain-lain. Bila misalnya satu unsur aja nggak ada, nggak lengkap, bukan film namanya.

Apa saja film-film favoritmu?

Yang pertama, trilogi Red White and Blue, kedua film Judou-nya Zhang Yimou. Sebenarnya dari Zhang Yimou ada banyak, ada Raise the Red Lantern, Red Sorghum, lalu ada The Road Home, sepertinya aku memang favorit sih sama dia, soalnya karena masih kultur Asia. Lalu dia mengumpamakan hukum karma dengan realitas, belum lagi dengan zaman dinasti-dinasti sebelumnya yang satu laki-laki bisa punya banyak selir. Di sini juga kan banyak yang begitu, jadi pas nonton itu kayak kesentuh, terus (film-filmnya) Joan Chen, dan satu, The Piano bikinan Jane Campion.

Apa buku bagus yang terakhir kamu baca?

Semua buku bagus (aku baca), tapi yang terakhir kubaca bukunya Eka Kurniawan yang tentang anak baru akil baligh itu (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas).

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads