'Toilet Blues' bercerita tentang kisah dua anak muda, Anggalih (Tim Matindas) seorang calon pastur dan Anjani (Shirley Anggraini) gadis yang minggat dari rumahnya karena dituduh terlibat pencabulan dengan teman-teman lawan jenisnya.
Tidak disengaja, dua anak muda yang pernah menjalin 'cinta monyet' sewaktu duduk di bangku SMP itu bertemu di perjalanan. Sebuah momen di mana Anggalih dan Anjani lari dari hidup yang mereka lakoni masing-masing. Apalagi, Anggalih sendiri ternyata ragu bahwa dirinya mampu menjadi seroang imam.
Jadilah pelarian itu sebuah cerita seru yang dipertontonkan selama kurang lebih 90 menit. Entah mereka berdua akan kembali bersatu atau justru mantap dengan keyakinan masing-masing. Sementara itu, Ruben (Tio Pakusadewo), orang yang diperintahkan Ayah Anjani, sedang mati-matian berusaha membujuk Anjani untuk pulang ke rumah.
"Aku ingin punya satu statement yang dirasakan oleh semua penonton, bahwa manusia lebih penting daripada agama. Hanya kebetulan saja film saya berlatarbelakang Katolik. Tapi, saya berharap film itu bisa menyampaikan hal yang lebih universal," jelas sutradara 'Toilet Blues' Dirmawan Hatta, saat jumpa pers di Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2014).
"Saya rasa film saya tidak menjurus ke agama manapun. Intinya saya bicara tentang manusia. Manusia itu lebih penting daripada agama," tegasnya lagi.
Menariknya, film yang digarap rumah produksi MAV Production itu tak hanya menjadi debut bagi dua aktor utamanya. Tapi juga bagi sutradara Dirmawan Hatta dan produser Edo Sitanggang.
Secara garis besar, drama yang terjadi di dalam 'Toilet Blues' menggambarkan kesedihan, bahkan tragedi. Bukan tanpa alasan, bagi sutradara yang juga penulis naskah untuk film-film seperti 'King' dan 'Mirror Never Lies' itu, kesedihan adalah cerita kehidupan yang sebetulnya.
"Aku masih menganggap Metodologi Yunani itu benar. Bahwa puncak drama itu adalah tragedi. Kalau ceritanya tentang kesedihan berarti kebenaran, kalau bahagia, artinya cerita kebohongan," ujarnya berfilosofi.
Dengan tiga aktor yang bermain di dalamnya, film yang sempat mengisi salah satu festival film JIFFest tahun lalu itu siap ditayangkan di bioskop Indonesia pada 3 Juli mendatang.
"Aku sih nggak punya target kuantitatif, kalau kualitatif aku punya. Yaitu ketika film ini dibicarakan, dicaci dan dimaki maka itu artinya ada respons dari penonton," pungkas Dirmawan.
Sebelumnya, 'Toilet Blues' telah diputar di CinemaAsia Film Festival (Amsterdam), Goteborg International Film Festival (Swedia), Deauville Asian Film Festival (Perancis), Busan International Film Festival (Korea), Mumbai Film Festival (India), Festival Kaleidoscope International Film Festival (GOA India), Window On Cinema Today (Kamboja), Pop Up Festival JiFFest (Jakarta), dan Jogja NETPAC Film Festival (Yogyakarta).Β
(hap/ich)











































