Peran Spider-Man Masuk Kultur dan Mengubah Karakter Superhero Lain

Bagaimana Spider-Man Mendunia (2)

Peran Spider-Man Masuk Kultur dan Mengubah Karakter Superhero Lain

- detikHot
Kamis, 08 Mei 2014 15:00 WIB
Peran Spider-Man Masuk Kultur dan Mengubah Karakter Superhero Lain
Jakarta -

Dengan kompleksitas konflik yang dihadapi dan pengaruh psikologis yang dirasakan, Spider-Man turut membantu memperluas jangkauan pembaca komik sepanjang tahun 1960. Setelah dipandang bacaan anak-anak, pembaca komik berkembang luas di kalangan remaja dan kampus-kampus.

"Stan Lee adalah seorang novelis frustrasi, dan saya yakin dia sangat bersemangat tentang fakta bahwa dia mendapatkan rasa hormat di kalangan mahasiswa, dosen dan intelektual," kata Sean Howe, penulis Marvel Comics : The Untold Story.

Bahkan sutradara film Alain Resnais meneleponnya pada suatu waktu, dan ingin bekerja pada beberapa proyek film dengan Lee. Sementara Marvel berhasil menjaring lebih luas, mereka juga memperluas jangkauan Spidey untuk TV, dan membuat banyak acara kartun di Sabtu pagi kehilangan jam tayang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Televisi kemudian membuka jalan bagi sang manusia laba-laba untuk menarik lebih jauh lagi sasaran pasar di kalangan anak-anak, tentunya dengan rak buku komik yang semakin besar. Ketika serial kartun itu disalurkan ke pasar luar negeri pada akhir 70-an, generasi baru mulai belajar mencintai sang superhero.

Dengan jangkauan pembaca yang lebih luas, pada akhir 60-an dan awal 70-an, Stan Lee dan timnya kemudian melakukan banyak penyesuaian kultur dan isu yang sedang hangat dengan keseharian mereka di komik-komik Spider-Man.

Spider-Man kemudian memperkenalkan salah satu karakter pendukung utama Afrika-Amerika pertama dalam seri komik, dengan subplot yang melibatkan protes mahasiswa, hingga mengangkat isu ketegantungan pada obat-obatan terlarang yang kemudian ditolak oleh Comics Code Authority.

Dunia luar terus mencoba untuk masuk ke dalam halaman komik. "Ini adalah salah satu pendekatan yang dilakukan Marvel, karakter neurotic dengan latar kehidupan nyata," lanjut Howe.

Dalam sebuah artikel tahun 1965 tentang Marvel di The Village Voice (tanda awal bahwa komik telah menjadi bagian dari budaya), penulis Sally Kempton telah menyatakan, "Bagaimana karakter seperti Superman bisa bersaing dengan simbol hidup dilema modern, tokoh neurotic, the super-anti-hero pada zaman kita?"

Jawabannya, tentu saja membuat karakter seperti Superman menjadi lebih mirip dengan sang manusia laba-laba. Jadi, selama bertahun-tahun hampir semua superhero --bahkan mereka yang ada selama beberapa dekade sebelum Spidey-- telah menjadi lebih mirip seperti Spider-Man, menangani isu-isu yang lebih nyata, mencoba untuk menjadi lebih realistis, dan memperluas kehidupan emosional mereka.

Pada 1970-an , Lois Lane berubah menjadi wanita kulit hitam selama 24 jam dan menjadi sadar akan rasisme. Pada 1980-an, Superman diubah untuk menempatkan sosok Clark Kent lebih di tengah cerita.

(ich/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads