Tidak ada yang berpikir itu akan berhasil. Jadi, seorang anak digigit laba-laba radioaktif dan itu memberinya kekuatan super? Dia berayun dari satu gedung ke gedung lain di New York dan memerangi kejahatan? Pemilik Marvel Comics Martin Goodman tak yakin Spider-Man akan menjual. Saat itu remaja pada umumnya lebih tertarik pada komik bernuansa humor seperti Archie atau karakter pendukung seperti Robin di Batman.
Itu adalah respons yang diterima penulis Stan Lee dan artis Steve Ditko ketika mereka pertama kali memperkenalkan Spider-Man in Amazing Fantasy #15 pada Agustus 1962. Sejak pertama melihatnya, kesan yang didapatkan dari sang tokoh alter ego (Peter Parker) sangat berbeda dengan pahlawan super lainnya. Nerdy, neurotic dan dibebani dengan berbagai macam masalah di kehidupan nyata.
"Aku hanya ingin melakukan apa yang aku pikir akan menjadi pahlawan super paling realistis," kata Stan Lee suatu hari pada sesama penulis Tom DeFalco.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah penampilan perdana, karakter itu muncul dengan judul The Amazing Spider-Man pada Maret 1963. Sang manusia laba-laba kemudian menjadi fenomena. Peter Parker adalah karakter yang sangat dekat dengan pembaca. Mereka tertarik pada hidupnya karena sang pahlawan melawan kejahatan dengan cara komikal.
"Tak ada tempat lain dalam sejarah ketika Anda melihat alter ego mendapatkan porsi seperti itu," kata Blake Bell yang menulis 'Strange and Stranger: The World of Steve Ditko'.
"Alter ego dari Batman dan Superman sebagian besar berlebihan, dengan fokus terutama pada, 'Apakah seseorang akan mengetahui jati dirinya suatu hari?' Tapi dengan Peter Parker, penggemar benar-benar bisa membayangkan bahwa mereka adalah karakter itu."
Bahkan yang tak kalah penting, Spider-Man bergulat dengan krisis identitas. "Karakter Spider-Man berbicara fakta bahwa kita sering tidak berpikir bahwa orang melihat diri kita yang sebenarnya dari sisi terbaik, " kata Dr Robin Rosenberg, penulis dan editor sejumlah buku tentang superhero dan psikologi, termasuk 'Superhero Origins: What Makes Superheroes Tick and Why We Care'.
"Peter menjadi bahan olok-olok dan terpinggirkan. Dia juga menderita karena perasaan bersalah. Saat pamannya Ben terbunuh, itu bukan hanya karena tindakan kriminal acak, tapi itu terjadi karena pilihan yang dibuat Peter," tambah Robin.
Sifat tersiksa dari Spider-Man, yang terbukti diterima baik oleh pembaca, kemudian memicu judul Marvel lainnya seperti mutan dari 'X-Men'. Mereka juga harus berjuang dengan penolakan dari masyarakat.
(ich/ich)











































