Hujan Harapan di Malam Puncak Hari Film Nasional

Hujan Harapan di Malam Puncak Hari Film Nasional

- detikHot
Rabu, 02 Apr 2014 09:53 WIB
Hujan Harapan di Malam Puncak Hari Film Nasional
Jakarta - Di tahun 2014, tepatnya pada 30 Maret kemarin, Indonesia merayakan hari besar bagi insan perfilman nasional yang memasuki tahun ke-64. Malam puncak Hari Film Nasional pun digelar untuk memberikan apresiasi serta ungkapan harapan sejumlah pelaku industri seni peran.

Malam puncak Hari Film Nasional yang diadakan di Djakarta Theatre XXI, Jakarta Pusat, Selasa (1/4/2014) malam berlangsung khidmat. Para aktor dan aktris berdatangan satu per satu melalui karpet merah yang terbentang megah. Ballroom Djakarta Theatre dihias semewah mungkin dengan meja bundar dan kursi yang serba putih.

Alex Komang selaku ketua Badan Perfilman Indonesia mengatakan dalam sambutannya tentang realitas film nasional yang lebih dari sekedar seni gambar yang bergerak.

"Film bisa dilihat dari dua sisi. Produk hiburan semata dan sebagai karya seni. Jika produk hiburan, maka keuntungalah yang ditonjolkan. Bila bicara seni, masyarakat modern saat ini sudah mengakui film sebagai seni ketujuh, sesudah sastra, teater, tari, suara, musik, dan rupa. Seperti karya seni lainnya, film mampu membuka tabu kemunafikan dan kebohongan," tutur Alex Komang yang gagah mengenakan setelan serba putih.

"Realitas mengungkap apa yang terpendam entah itu sosial, dunia, manusia. Film sebagai seni maka jadi produk kebudayaan yang patut bahkan wajib dipelihara dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh," sambungnya lagi.

Walaupun malam itu penuh dengan segala macam hiburan, hal paling menarik adalah ketika sebuah video 'bumper' yang berisi jutaan harapan dari seluruh lapisan pendukung industri peran ditayangkan. Mulai dari sutradara, produser, line produser, aktor, penulis naskah sampai budayawan.

"Film itu adalah elemen tertinggi dari politik sosial budaya. Jadi, salah satu indikator bangsa yang maju bisa dilihat dari kualitas perfilmannya," tutur aktor senior Slamet Rahardjo dalam video.

"Hal yang ingin gue perbaiki adalah Undang-Undang No.33 tentang Perfilman Nasional. Tidak ada kejelasan yang menyeluruh dan mengikat di sana. Termasuk dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI), harusnya bukan menggunakan kata 'Badan', tapi 'Komisi'. Kenapa? Karena lebih punya makna dan kuat," jelas sutradara cantik Nia Dinata.

Tak cuma mereka, hujan harapan masih terus menghujam malam puncak Hari Film Nasional yang dimulai sejak tahun 1950 silam itu. Tentang jam kerja, hak perlindungan pemain dan kru, kesejahteraan, tata edar film bioskop dan banyak lainnya.

Semoga lewat itu semua, pemerintah maupun pelaku industri bisa bersama-sama mencari solusi dan terus mengembangkan perfilman Indonesia sampai ke kancah dunia. Selamat Hari Film Nasional ke-64. Bangga Film Indonesia!

(hap/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads