Film 'Lawuh Boled', Kritik Siswa SMA atas Krisis Pangan di Desa

Film 'Lawuh Boled', Kritik Siswa SMA atas Krisis Pangan di Desa

- detikHot
Rabu, 19 Mar 2014 11:38 WIB
Film Lawuh Boled, Kritik Siswa SMA atas Krisis Pangan di Desa
(YouTube)
Jakarta - Sebuah hal yang kreatif dan patut didukung telah dilakukan oleh siswa-siswa pecinta film yang tergabung dalam Pedati Film di sebuah SMK di Purbalingga, Jawa Tengah. Mereka menyampaikan kritik pedas lewat sebuah film fiksi pendek berjudul 'Lawuh Boled'.

'Lawuh Boled' merupakan sebuah kritik sosial atas ketimpangan pangan yang terjadi di sebuah kampung di Banyumas. Film ini menyentil pemerintah, terutama dalam hal distribusi pangan. Film dibuka dengan adegan seorang anak yang hendak pergi ke sekolah hanya menjumpai sepiring singkong di meja. Tak ada nasi.

Lantas, kenapa singkong? "Kenapa kita pilih singkong, karena itu adalah makanan yang paling murah. Identitasnya di Jawa ya begitu, makan singkong sama dengan miskin," jelas Direktur Cinema Lovers Community Bowo Leksono, yang mewakili Pedati Film kepada detikHOT saat ditemui di malam puncak South To South (STos) Film Festival 2014, Goethehaus, Jakarta Pusat, Selasa (18/3/2014) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ceritanya kemudian berlanjut saat ibu anak tersebut terpaksa tidak mendapatkan raskin (beras jatah untuk warga miskin) karena salah mengambil kupon. Kesalahan itu sendiri disebabkan karena si ibu itu buta huruf. Film yang disutradarai oleh Misyatun mewakili komunitas filmnya, Pedati Film itu juga secara umum menggambarkan masalah sosial yang terjadi jauh di luar Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

"Anak-anak SMK ini memang menggambarkan pengalaman mereka di sana. Pada dasarnya mereka menyampaikan protes, keluh kesah kondisi yang terjadi lewat film. Jadi, ketika film ini ditonton mereka sudah senang, tanpa harus menang," tegas Bowo lagi.

Dengan begitu, tentu tak heran jika film berduari sekitar 20 menit itu berhasil meraih penghargaan Film Pendek Fiksi Terbaik SToS Film Festival 2014. "Ketika kritik dituangkan ke film itu lebih bijak, lebih plong. Apalagi film mereka ditonton oleh masyarakatnya," ujar Bowo.

(hap/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads