Kalimat itu adalah satu dari sekian banyak ungkapan yang pernah terlontar dari mulut Bung Karno semasa hidupnya, selain ungkapannya yang paling populer sepanjang masa, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya."
Kedua petikan dari pidato Soekarno tersebut tak kita temukan dalam film 'Soekarno' garapan Hanung Bramantyo ('Sang Pencerah', 'Ayat-ayat Cinta') yang hari-hari ini jadi perbincangan hangat di masyarakat. Namun, sebagai bangsa yang besar yang menghormati jasa pahlawannya, rupanya pembuat film ini sadar betul dan hendak melecut rasa nasionalisme kita dengan cara mengajak penontonnya untuk mau berdiri menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' sebelum filmnya dimulai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada lusinan buku biografi tentang Sukarno yang pernah diterbitkan di negeri ini. Dalam buku 'Soekarno: Arsitek Bangsa' tulisan Bob Hering yang terbit pada 2002, Soekarno selain sebagai pejuang bangsa, juga digambarkan sebagai sosok soko guru yang menyatukan seluruh nusantara. Dan, yang paling menarik, buku ini dilengkapi 125 foto eksklusif, sejumlah foto yang di antaranya bahkan dianggap mampu berbicara lebih tentang sosok Sukarno itu sendiri.
Ada pula buku 'Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' tulisan Cindy Adam yang terkenal itu. Dalam buku karya Cindy Adam ini, Soekarno digambarkan sebagai sosok yang berperasaan halus, pengagum wanita dan (lagi-lagi ini yang menarik), disebut sebagai penyuka bantal guling! Jangan lupakan pula buku-buku sejarah untuk anak sekolah yang juga memuat kisah sepak terjang Sukarno dalam perjuangan kemerdekaan.
Hanung tak meminjam buku tentang Sukarno versi mana pun, tulisan siapapun, sebagai dasar naskah film ini. Rupanya Hanung cukup pede dengan tim riset yang dibentuknya sendiri untuk menggali bahan cerita bagi filmnya. Wajud dari hasil kerja tim riset film ini adalah suguhan kisah hidup Sukarno yang ditampilkan secara kronik, plus bonus sedikit kisah asmara segitiga antara Sukarno dan kedua istrinya, Inggit dan Fatmawati. Rasa-rasanya, bagi penonton yang tak pernah melahap bacaan tentang Sukarno selain buku sejarah waktu bersekolah dulu, film ini tak menawarkan cerita baru selain kisah asmara Soekarno bersama istri-istrinya tadi. Film 'Soekarno' adalah visualisasi megah dari sejumlah bab yang terdapat dalam buku sejarah anak sekolah.
Dalam teknik pembuatan film, 'Soekarno' dibuat secara sungguh-sungguh; itu tak terbantahkan lagi. Film ini juga didukung oleh para aktor jempolan di titik paling puncak karier akting mereka sejauh ini. Ario Bayu ('KALA', 'Catatan Harian si Boy') sebagai Sukarno berhasil memikat, tak hanya Inggit dan Fatmawati, namun juga hati penonton dengan pesona dan kharismanya. Maudy Koesnaedi ('Garuda di Dadaku', 'Love Story') sebagai Inggit mampu membuat hati kita remuk tatkala ia diceraikan Sukarno. Tika Bravani ('Make Money', 'Alangkah Lucunya Negeri Ini') sebagai Fatmawati, lewat penampilannya, ah, kita pun tahu dan mengerti alasan Soekarno jatuh hati kepadanya.
Lukman Sardi ('Laskar Pelangi', 'Quickie Express') sebagai Hatta jelas tak tampil buruk. Namun, selain penampilan fisik yang hampir menyerupai tokoh aslinya, Lukman tampil kurang maksimal; masih tipikal seperti penampilannya yang sudah-sudah di film lain yang dibintanginya. Penampilan pendatang baru Tanta Ginting sebagai Sjahrir adalah scene stealer yang memukau. Berkat para aktor inilah 'Soekarno' memiliki bobot yang lebih.
Tak ada kritik berarti bagi hampir semua aktor yang berperan dalam 'Soekarno', kecuali departemen cerita. Dan memang hal ini sangat mudah menyulut perdebatan seperti "Soekarno-mu ya Soekarno-mu, Soekarno-ku ya Soekarno-ku". Sebab, konon tokoh bapak bangsa kita yang satu ini "multi tafsir" bak kisahnya tercantum di dalam kitab suci saja. Oleh karenanya, pembuat film ini memang sah-sah saja menampilkan Sukarno lewat tafsirnya sendiri. Sah-sah saja Soekarno digambarkan sebagai lelaki gentleman yang penyayang, santun, menghormati para wanita, dan lain sebagainya. Namun sayang, ada yang dilupakan tentang bagaimana Sukarno mampu merebut hati rakyat, bukan hati wanita saja.
Kita dibuat manut saja dengan penggambaran sosok Sukarno yang begitu dipuja dan dicintai rakyat dengan pidato-pidatonya di depan khalayak ramai. Pembuat film ini juga tak menunjukkan apa pemikiran sang tokoh utama kita, kecuali lewat adegan-adegan pembelaan di depan pengadlan kolonial, dan saat debat di BPUPKI. Pembentukan karakter Sukarno di masa 'nyantrik' di rumah Cokroaminoto di Surabaya pun hanya ditampilkan sekilas. Tak tergambarkan apa atau siapa yang menginspirasinya hingga ia menjadi orang hebat. Jika hal tersebut digali lebih dalam, niscaya film ini akan jadi mutiara yang berkilau.
Memang, seperti satu lagi petuah Sukarno --"barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam"-- Hanung mestinya menyelam lebih dalam lagi. Jangan sampai, dengan tim riset yang telah dibentuknya, ia terkesan hanya berenang tak jauh dari permukaan, sekedar mengingatkan kembali hal-hal tentang Sukarno yang secara umum kita semua sudah mengetahuinya dengan baik.
Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia
(mmu/mmu)











































