Di Wina, film tersebut akan memperlihatkan kehidupan Hanum Rais (Acha Septriasa) dan Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya) sebagai kaum minoritas, dan upaya mereka menjadi agen muslim yang baik.
Selama hidup di Wina, Hanum juga menapaki sejarah kejayaan Islam lewat peninggalan-peninggalan dari masa lalu, seperti karya seni bernuansa Islam di museum Louvre, Paris, Katedral Mezquita yang dulunya mesjid di Cordoba Spanyol, hingga ke Hagia Sophia, Turki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ini flowing by character, ini kan film ini harus lebih dari sekadar perjalanan. Harus ada karakter yang kuat, plotnya, dramanya. Akhirnya kita buat drama religi di dalam perjalanan spiritual ini," ucap sutradara Guntur Soeharjanto saat berbincang dengan detikHOT di sela-sela syuting di Wina, Austria baru-baru ini.
Jika mengikuti sisi autentik dari buku, tentunya karakter Hanum akan lebih banyak berdialog bahasa Jerman dan Inggris. Tetapi hal itu bisa disiasati agar pesan yang ingin disampaikan ke penonton Indonesia, dan lebih mudah dicerna.
FOTO: Sudut Kota Wina di Film '99 Cahaya di Langit Eropa'
"Bahasa komunikasi film kita nggak harus real, full Jerman atau Inggris. Makanya bagaimana kita mengkomunikasikan film ini biar sampai ke penonton," ucap Guntur.
Abimana yang dalam film banyak disorot dengan kehidupan kampusnya di Wina, setuju dengan visi tersebut. Ia akan banyak bergaul dengan berbagai macam karakter di tempatnya menimba ilmu. Mulai dari Stefan yang ateis, pihak kampus yang sekuler, hingga karakter Khan, muslim Pakistan yang strict.
Dialog mereka pun banyak membahas konsep ketuhanan, cara beragama, dan pandangan masing-masing dalam menyikapi isu tersebut hingga perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang mudah dimengerti penonton.
"Penontonnya nggak akan ngerti (kalau full bahasa Inggris dan Jerman). Leading-nya aja pakai bahasa Jerman, nanti sisanya pakai bahasa Inggris, dan Indonesia," ucap Abi.
FOTO: Suasana Syuting '99 Cahaya di Langit Eropa' di Austria
Selain itu, beberapa karakter di film ini juga mendapat pengembangan. Rangga, Stefan dan Khan akan memiliki porsi sedikit lebih besar dari buku aslinya. Bagaimana pengalaman Abimana selama syuting di Wina?
"Yang agak masalah sih cuaca, yang lainnya nggak ada. Hujan, dingin. Awal-awal syuting malah cepat lancar karena set-nya di dalam ruangan. Nah mulai keluar tuh yang agak memperlambat," ucap Abi yang sangat menikmati syuting di Universitas Wina dengan arsitektur megah khas Eropa.
"Di kampus disediain tempat kayak taman, berjemur santai, library-nya juga bagus, interior bagus. Kalau mesjid, di Indonesia sebenernya jauh lebih besar, karena di sini minoritas jadi lebih spesial," paparnya.
'99 Cahaya di Langit Eropa' akan tayang di bioskop pada 5 Desember mendatang.
(ich/mmu)











































