Permasalahan bermula dari pihak Rachmawati yang tak menyetujui Ario Bayu sebagai pemeran Soekarno. Sedangkan Rachmawati lebih memilih Anjasmara.
"Sebagai sutradara, Hanung harus dominan dalam pemilihan pemain pendukung.Β Karena dia yang bakal menggarap mulai dari proses pembuatan naskah atau skenario hingga syuting di lapangan, sudah seharusnya diberi kepercayaan penuh di dalam memilih pemain," ucap Piet yang juga sebagai paman dari Raffi Ahmad itu beberapa waktu lalu.
Piet Pagau menuturkan kalau permasalahan ini hanya karena miss-comunication saja. Padahal jika Rachmawati, HanungΒ dan Multivision Plus memposisikan diri pada porsi masing-masing, tidak akan terjadi perseteruan itu.
"Itu mutlak meski perlu mendengar juga masukan dari pihak produser atau pihak yang melakukan kerjasama," tegas pria yang berlangganan memerankan peran antagonis itu.
Piet menambahkan, kalau hak prerogatif atau otoritas sutradara jauh lebih besar, jika sudah bicara soal pembuatan karya film. Dalam sebuah produksi film, menurut pria kelahiran 23 Pebruari 1951 itu, hendaknya sutradara diberi peran atau kebebasan mutlak untuk menentukan siapa yang terlibat.
"Yang terpenting, karya filmnya itu kelak bisa dipertanggungjawabkan. Sah-sah saja jika Hanung kemudian menolak intervensi, sekalipun dari pihak produser atau pemilik kerjasama lain," tandas Pria yang juga ikut berperan dalam sejumlah judul film seperti, 'Mandau & Asmara', 'Leak', 'The Shaman', 'Pejantan Tanggung', 'Lost in Papua' dan 'Batas' itu.
(pus/doc)











































