Itu yang dirasakan co-founder komunitas Moviegoers Indonesia, Tatzuar Amir. Pria ini mengaku pernah beberapa kali mendatangi penyewaan bioskop private bersama penikmat film lainnya.
βTapi lebih suka nonton ke bioskop rame-rame. Itu lebih seru dan asyiknya kita bisa mengamati crowd orang yang nonton bareng kita,β katanya kepada detikHot Rabu (24/7/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, kata dia, di tempat privat seperti itu harus sepaham soal genre dan selera film. Namun, lambat laun, Tatzu bersama kawan-kawannya banyak yang sudah punya home theater sendiri di rumahnya. Serta bisa membeli film melalui amazon maupun video on demand (VoD).
Hal yang sama juga dikatakan oleh produser LifeLike Pictures, Sheila Timothy. Kepada detikHot ia mengatakan kenikmatan menonton di bioskop tak tergantikan. Seperti sensasi menonton di layar super lebar dengan sound system dolby, interaksi sosial karena nontonnya ramai-ramai. Serta adanya reaksi tawa, sedih, kaget yang terjadi secara kolektif.
βTapi juga karena pendapatan bioskop merupakan sumber penghasilan terbesar bagi film Indonesia, maka saya tetap mendukung masyarakat untuk nonton di bioskop. Ha..ha..ha,β ujarnya.
Sedangkan bagi Dewi Aryani, 26 tahun, penikmat film genre klasik dan independen, menonton di bioskop privat macam Subtitles Group adalah salah satu pilihan tepat. βSaya rutin datang sebulan dua kali, bareng keluarga atau sendiri,β katanya di Dharmawangsa Square Selasa lalu (23/7/2013).
Menurutnya, banyaknya koleksi film klasik dan kenyamanan ruangan home theater adalah daya tarik baginya. Serta adanya fasilitas cemilan sebagai pendukung menambah nilai plus bagi bisnis sewa ruangan laiknya bioskop privat.
(utw/utw)











































