βIni bisnis yang susah, yah memang menyenangkan kalau orang suka film, atau bisnis di film juga. Tapi prosesnya akan sulit kalau kita enggak punya komitmen dan kemauan,β katanya kepada detikHot Selasa lalu di Dharmawangsa Square.
Awalnya, dibutuhkan modal sekitar Rp 500 juta untuk membangun bioskop privat di satu lokasi. Dengan adanya 4.000 koleksi film yang dipunya Subtitles itu membuat para peminatnya kian kebanjiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah 13 tahun dari bisnis sewa DVD, kini ide yang awalnya iseng semasa kuliah antara Irna dan Enrico sudah berjalan stabil. Keuntungan lainnya pun berdatangan dan selalu ada pelanggan yang rutin datang.
Janji Subtitles Group kepada setiap pelanggannya adalah, βHome the world best movie.β Menurut Irna, janji itulah yang dipegang dan tetap berada di jalur film independen dan foreign.
βYah, apa yang dijanjikan ke pelanggan, lakukan. Kalau enggak tepati yah kolaps. Makanya, rata-rata banyak frequent customer yang balik,β ujarnya.
Kini, pihaknya sudah mendirikan cabang baru dari Subtitles dan dinamai Pixel Viewing Room pada 2008 lalu. Hal ini, kata Irna, untuk menambah peminat kalangan anak sekolah dan mahasiswa, serta segmentasi film yang lebih meluas.
PIX Viewing Room berada di dua lokasi yakni Old House di Margo City Depok dan di Gedung Seremanis, Jalan Sabang, Jakarta Pusat. βSemua tempat private theater kami tetap harus booking terlebih dahulu. Daripada langsung datang, kecewa dan menunggu lama.β
Ke depannya, ia juga berencana akan menambah lokasi lainnya di luar Jakarta. Seperti Surabaya, Bali, Bandung, dan Tangerang. βYah, rencana market ke sana sudah ada, tapi belum dapat lokasi yang cocok,β ujar Irna.
(utw/utw)











































