Tak Ingin Melenceng dari Sejarah, Hanung Hanya Syuting 1-2 Adegan 'Soekarno' Sehari

Syuting 'Soekarno'

Tak Ingin Melenceng dari Sejarah, Hanung Hanya Syuting 1-2 Adegan 'Soekarno' Sehari

prih febriani - detikHot
Kamis, 13 Jun 2013 15:23 WIB
Tak Ingin Melenceng dari Sejarah, Hanung Hanya Syuting 1-2 Adegan Soekarno Sehari
Ambarawa -

Langit cerah di Ambarawa, Rabu (12/6/2013) menghilangkan kekhawatiran sutradara Hanung Bramantyo sebelum memulai syuting. Puluhan kru berlalu-lalang menyiapkan set, kostum, dan pemain. Semua sibuk bekerja secara efisien seolah tiap detik waktu yang dipakai adalah uang yang keluar.

Hanung Bramantyo sebisa mungkin menghemat waktu yang ia punya untuk mengerjakan adegan sebanyak-banyaknya agar biaya produksi tak membengkak. Tapi, karena film yang ia buat memiliki muatan fakta sejarah, Hanung sangat berhati-hati.

"Biasanya kalau di film lain kita bisa 8 sampai 9 adegan, ini 1 sampai 2 adegan saja yang bisa kita kerjakan," ucapnya ketika ditemui di sela-sela syuting di Lembaga Pemasyarakatan Ambarawa, Jawa Tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum memutuskan melakukan pengambilan gambar, Hanung selalu melihat konten dan konteks adegannya dengan benar. Detail sekecil apapun tidak boleh melenceng.

Beberapa kali, ia harus membatalkan adegan untuk membongkar skenario yang menurutnya kurang sesuai dengan fakta. Hanung juga menghindari penggunaan animasi di filmnya, apalagi menambahkan fiksi. Hanung mengaku berkomunikasi setiap hari dengan keluarga Soekarno.

"Seperti waktu Pak Karno menceraikan Bu Inggit, kan itu dia mengantarkan pulang Bu Inggit ke rumah orangtuanya ya. Nah, di situ saya bikin Pak Karno nyetir sendiri. Saya pikir itu hero. Tapi, pas saya telepon ke keluarga, katanya Pak Karno nggak bisa nyetir, jadi harus diulang adegannya," jelas sutradara yang saat ditemui tampak santai dengan baju Barong khas Bali dengan paduan celana pendek itu.

Ketika detikHOT dan beberapa media berkunjung ke lokasi syuting, Hanung sedang mengambil adegan ketika Soekarno dipenjara. Aktivitas Soekarno di Partai Nasional Indonesia (PNI) memang membuat Soekarno ditangkap Belanda pada Desember 1929, dan dimasukkan ke Penjara Banceuy, Bandung.





"Besoknya kita akan syuting di Stasiun Ambarawa dan akan pakai ekstras 750 orang," ujar Hanung.

Mencari ratusan pemain tambahan yang pas dengan era 1920 hingga 1940-an bukan perkara yang gampang. Hanung harus mencari karakter orang yang kurus-kurus. Terkadang, ia meminta bantuan dari para mahasiswa UGM dan ISI Yogyakarta, namun sering terbentur dengan jadwal kuliah mereka.

Hanung pernah mengungkapkan, demi kelancaran syuting ia 'terpaksa' melakukan tirakat atau ritual. Namun, sutradara berusia 37 tahun itu meminta agar publik tidak menyalahartikan tindakannya itu.

"Saya melakukan ritual yang tirakat itu bukan musyrik ya. Jangan diartikan mistik, artinya supaya semuanya berjalan lancar syuting ini," jelasnya meminta pengertian.

Dalam perbincangan selanjutnya, Hanung mengatakan bahwa ia terpaksa egois dan jauh dari keluarga demi fokus produksi. Ia pun harus melewatkan ulang tahun sang anak, Bumi, hingga pengambilan raport di sekolah. Simak terus ceritanya di detikHOT!



(ich/mmu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads