Perselisihan Ruben Onsu dan Sarwendah usai perceraian, kini merembet ke persoalan transparansi dana nafkah anak. Pihak Ruben Onsu melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, membongkar alasan di balik penghentian sementara nafkah untuk anak.
Minola Sebayang menjelaskan, menurut kesepakatan hukum yang tertuang dalam Akta 39, terdapat mekanisme mengenai pembiayaan pemeliharaan dan pendidikan anak. Dalam aturan tersebut, pihak Sarwendah seharusnya menjalin komunikasi terlebih dahulu sebelum nominal nafkah dibayarkan setiap bulannya.
"Di dalam Akta 39, yang bertanggung jawab untuk membiayai biaya pemeliharaan dan juga biaya pendidikan itu adalah Ruben. Tapi di situ ada tata cara dan mekanismenya, yaitu S wajib menyampaikan terlebih dahulu kemudian mendiskusikan biaya itu baru dibayarkan," kata Minola Sebayang saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Minola Sebayang menyebut dalam praktiknya, diskusi tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pihak Ruben Onsu mengaku, hanya menerima tagihan dengan angka yang terus berubah-ubah setiap bulan tanpa adanya rincian biaya tetap yang jelas.
"Yang ada hari ini, bulan ini mintanya segini. Bulan depan mintanya beda lagi. Bulan depannya lagi mintanya beda lagi. Nah, kalau biaya pendidikan, biaya pemeliharaan itu kan paling tidak akan ada fixed cost-nya," tutur Minola Sebayang.
Minola Sebayang mengungkapkan pengeluaran bulanan yang diklaim untuk keperluan anak-anak pernah mencapai angka yang fantastis. Angka tersebut, juga mencakup tagihan kartu kredit yang penggunaannya diklaim oleh Sarwendah untuk kepentingan buah hati mereka.
"Pernah mencapai Rp 263 juta per bulan. Tiap bulan asal minta dia menentukan nilainya, Ruben akan transfer. Apalagi ada kartu kredit yang katanya setengah dari penggunaan itu 'ini anak-anak, anak-anak', itu juga diminta juga ke Ruben. Nah ini juga tolong dong perinciannya," tegasnya.
Lebih lanjut, Minola Sebayang menegaskan kliennya tidak berniat untuk lari dari tanggung jawab soal nafkah. Ia hanya menunggu, kejelasan rincian agar pembayaran bisa dilakukan tepat sasaran tanpa harus menunggu tagihan yang berubah-ubah.
"Kita bertanya, berapa nafkah fix anak-anak, biar kita tahu tiap bulan tanpa diminta kita bayarkan, sekalian dengan pertanggungjawaban penggunaan uang-uang yang dahulu," pungkasnya.










































