Ditambah, mereka harus berdialog menggunakan bahasa Jawa atau Bahasa Jepang dengan logat yang meyakinkan. Seperti yang dialami Adipati Dolken yang berperan sebagai salah satu santri di pesantren Tebuireng.
βGimana caranya saya bisa jadi manusia yang hidup di tahun 1942 karena saya lahir di tahun 90-an dari dulu sampai sekarang tahunya handphone, komputer. Lumayan berat karena waktu reading juga kita jarang megang handphone terus juga sama logatnya karena saya nggak bisa bahasa jawa, cukup berat buat saya,β katanya saat ditemui detikHOT baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βTerus kemudian dialek jawa yang sedikit menyulitkan saya karena saya orang Sunda yang dialek Sundanya sangat kental jadi pas masuk untuk memerankan Sari ini yang bicaranya banyak bahasa Jawa itu yang menyulitkan saya,β katanya.
Sementara bagi Dayat Simbaia, film 'Sang Kiai' membuatnya lebih mengenal tokoh besar dari Indonesia. Sebelumnya ia mengaku tak mengetahui siapa K.H Hasyim Asyari.
"Jadi waktu ditawarin saya sempat 3 kali mengalami casting dan tiga-tiganya gagal. Yang susah sih karena saya nggak tahu Yusuf Hasyim itu kayak apa karakternya, jadi waktu nyari di internet pun semua artikel tentang Yusuf Hasyim itu hampir nggak ada, sedikit sekali tutur Dayat.
Sementara bagi Dimas Shimada yang mendapat karakter sebagai komandan tentara Jepang, sudah menyiapkan mental apabila nantinya ia dibenci masyarakat yang menonton.
βSaya melakukan penyiksaan atas Hasyim Asyβari. Masyarakat Indonesia akan benci sama saya,β kata Dimas yang kakeknya ternyata salah seorang penjajah Jepang.
(ich/mmu)










































