FFI 2012 kabarnya memakan biaya hingga Rp 16 miliar lebih. Namun dana sebesar itu dinilai tak sebanding dengan kualitas penyelenggaraannya. Setidaknya itulah yang dirasakan sutradara Joko Anwar.
"Ketidakkredibelan FFI membuat beberapa produser tidak mau mengikutsertakan film mereka, dan beberapa yang masuk nominasi tidak bangga," komentar Joko via Twitter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika nanti FFI kehilangan kredibilitasnya sama sekali di mata orang film & masyarakat, buat apa FFI dilaksanakan lagi? Buat proyek?" tambah Joko yang telah meraih dua Piala Citra itu.
Sementara aktor Lukman Sardi menyoroti perubahan desain Piala Citra. Ia menyayangkan piala yang sudah turun-temurun itu diganti wajahnya dengan alasan pembaruan.
Menurut pemeran Kiai Ahmad Dahlan di film 'Sang Pencerah' itu, yang harus diubah adalah sistem dan pola pikir dalam penyelenggaraan FFI. Ia juga tak habis pikir karena wadah para artis film diketuai oleh seorang guru spiritual yang menurutnya tak memiliki asal usul jelas di dunia film.
"Piala itu sudah menjadi bagi sejarah film Indonesia. Sebagai contoh, piala Oscar sudah 80 tahun tapi desainnya tidak pernah berubah," komentar Lukman via media yang sama.
Aktor muda Reza Rahadian juga sempat menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan FFI 2012. Menurutnya, festival kali ini digelar dengan persiapan yang tidak terkoordinasi dengan baik.
Selain banyak masyarakat yang tak tahu informasi soal FFI tahun ini, secara teknis juga banyak kekurangan. "Mulai dari lagu Citra dinyanyikan sembarangan. Terus hiburannya ini kayak musik lagu pop biasa yang dinyanyikan, bukan lagu soundtrack film," ujarnya.
"Mending kasih ke orang film sekalian kalau panitianya memang tidak tahu film," tambahnya.
Masih banyak pekerja film dan masyarakat yang melontarkan kekecewaan mereka terhadap penyelenggaraan FFI kali ini, termasuk dari kalangan wartawan. Menurut beberapa wartawan film di berbagai media nasional, banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan informasi soal penyelenggaraan FFI dari pihak panitia.
"Pas acara puncaknya juga nggak diundang. Beberapa teman media lain yang cukup besar juga ngerasain hal yang sama," ucap wartawan salah satu media online yang tak mau disebutkan namanya itu.
(ich/mmu)











































