Usaha untuk mengembalikan film nasional menjadi tuan rumah di negeri sendiri, memang bukan misi yang mudah. Selain diperlukan kerjasama yang baik dari para pemangku kepentingan, tentunya peran penonton sangat dibutuhkan.
Sejumlah praktisi perfilman dan pihak-pihak yang terkait pun memberikan pandangan mereka akan kondisi perfilman nasional saat ini dalam sebuah acara diskusi 'Seni Rupa dalam Film Era Digital'. Acara yang digelar PWI Jaya Seksi Film dan Budaya itu dihelat di Hotel Puncak Raya, Bogor, pada 23-25 November 2012.
Tak dapat dipungkiri, dalam perkembangannya, film tak lagi hanya bisa dilihat dari konteks industri. Namun, film juga memiliki peranan penting sebagai salah satu nilai budaya pembentuk karakter.
"Sekarang kalau anak muda ke bioskop nonton film Indonesia, malu. Mereka merasa keren kalau sudah nonton 'Skyfall'" ujar Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Irman Gusman yang cukup miris dengan kondisi tersebut.
Direktur Utama Starvision Plus Chand Parwez Servia, memaparkan sedikit gambaran kendala dari sekian banyak yang dialaminya dan produser lain. Parwez yang memproduksi 'Get Married' itu merasa film nasional saat ini kurang mendapatkan kesempatan tayang yang cukup.
Apalagi saat ini kuantitas film nasional yang semakin banyak, dalam seminggu bisa dua film nasional yang rilis. Belum lagi persaingan dengan film-film Hollywood.
"Saya bisa bilang penonton kita turun 50 persen dari 2007 lalu. Kondisi yang memprihatinkan karena film kita nggak punya tempat," ucapnya.
Namun, ia juga tak mau terlalu menyalahkan kondisi tersebut. "Menurut saya, industri kreatif adalah industri subyektif. Tidak bisa dipersalahkan, tapi patut untuk dibicarakan (mencari jalan keluar)," tambahnya.
Kejayaan film-film produksi Starvision yang bisa ia jadikan tolok ukur, adalah perbandingan jumlah penonton. Pada 2005 lalu, film 'Virgin' produksinya mendapat 1,1 juta penonton, 'Heart' yang diproduksi satu tahun kemudian, membukukan 1,28 juta penonton, diikuti 'Get Married' yang mencapai 1,4 juta penonton.
Menurut Parwez, saat itu filmnya bisa meraih prestasi tersebut karena kesempatan tayang yang cukup panjang. Apalagi, jarang film nasional yang dirilis berdekatan.
"Sekarang untuk sampai sejuta penonton sangat sulit," keluhnya.
Dilema juga dirasakan para pengusaha bioskop independen. Banyak pengusaha bioskop di daerah yang terpaksa gulung tikar karena minimnya minat penonton sehingga tidak bisa menutupi biaya operasional.
"Di Probolinggo ada bioskop bagus banget, tapi penontonnya nggak ada. Pemasukan hanya Rp 3 juta sebulan, dan terus merugi. Akhirnya untuk mempertahankan itu, dia subsidi dari usahanya yang lain," ujar Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia Djoni Sjafruddin.
(ich/ast)











































