'Onrop! Musikal', Reaksi Sosial Seorang Joko Anwar

- detikHot
Sabtu, 13 Nov 2010 13:02 WIB
Jakarta - Setelah 'Pintu Terlarang', sutradara Joko Anwar melebarkan sayapnya ke pentas teater. Lewat 'Onrop! Musikal', Joko ingin mengajak masyarakat Indonesia lebih menghargai perbedaan.

'Onrop! Musikal' menampilkan kisah sebuah pulau bernama Onrop yang menjadi tempat pembuangan bagi perusak moral. Pulau Onrop juga terkenal dengan tidak adanya perikemanusiaan dan sering disebut sebagai 'neraka dunia'. Namun, di pulau itu ternyata manusia bisa belajar arti sebenarnya dari cinta dan kasih sayang.

Pada Jumat (12/11/2010), pementasan perdana 'Onrop! Musikal' sukses digelar di teater besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Usai pementasan, detikhot sempat berbincang-bincang dengan Joko Anwar.

Apakah 'Onrop! Musikal' memang berniat untuk mengkritisi ormas-ormas yang kini menjadi polisi moral?

Saya kalau bikin sesuatu pasti reaksi sosial. Semua film saya juga seperti itu, mulai dari 'Arisan', 'Janji Joni', 'Kala'. Itu pasti reaksi sosial, apakah itu komedi thriller.

Nah, saya merasa merasa beberapa tahun ke belakang ini kok Indonesia sekarang tidak ada toleransi antar umat beragama, rakyat, semua menganggap paling benar. Kekerasan kayaknya nomor satu.

Apa memang direncanakan untuk membuat media yang baru?


Saya memang dari awal serba tidak direncanakan. Dari awal karir juga, memang sudah direncanakan suatu hari mau bikin teater musikal. Sebagai seniman, saya tidak mau mandek, saya mau mengeksplorasi.

Apa mau membuat trend?

Tidak, kami tidak mencoba membuat trend. Kami berseni untuk mengatakan seni sesuatu. Kalau nantinya orang2 tertarik kepada teater musikal, ya itu bagus sekali. Karena teater tidak bisa tipu, pertunjukannya live dan udah punya bakat. Kalau film kan bisa banyak tipuan kamera.

Nah, teater ini akan jadi apa menurut pandangan lu?

Ini bakal jadi alternatif yang bisa dilirik orang, seperti yang saya bilang, kalau di bioskop banyak sampah mungkin ya itu, bisa dijadikan. Kebetulan ini juga terencananya udah lama, kita nggak tahu dua tahun berikutnya itu banyak sampah atau nggak. Kebetulan bioskop lagi seperti itu, dan ini kebetulan direncanain. (hkm/hkm)