detikHot

K-Spotlight

Keterbukaan Idola K-Pop soal Gangguan Mental yang Dihadapi

Senin, 29 Jun 2020 14:36 WIB Delia Arnindita Larasati - detikHot
SUWON, SOUTH KOREA - JUNE 18:  A South Korean fan (L) of a boy band, Exo, (not shown) holds a banner as a K-Pop band perform on stage on June 18, 2016 in Suwon, South Korea.The particular concert was organized by the city government of Suwon, commemorating the 220th anniversary of Suwon-Hwaseong Fortress, a UNESCO heritage site. It featured 25 K-Pop idol groups and solo artists for two days: June 17 and 18, 2016, drawing more than 10,000 visitors. The South Korean government, both on a central and local level, try to boost tourism by sponsoring and directly organizing K-Pop concerts in big venues. The fans come from Korea as well as Japan, China, and Southeast Asia, as the popularity of K-pop had rapidly grown after it started in Japan in the early 2000s, and expanded its fan base to teenagers and young adults in China, Southeast Asia, and as far as Latin America.  (Photo by Jean Chung/Getty Images) Foto: Getty Images
Jakarta -

Idola K-Pop kerap memberi semangat kepada fans melalui lirik pada lagu-lagu mereka. Namun pernahkah terpikir mereka juga menyembunyikan permasalahan yang berat?

Di Korea Selatan masalah terkait kesehatan mental masih taboo untuk dibicarakan. Sehingga tak banyak yang berani mengungkap kesulitan yang mereka hadapi.

Hal tersebut juga terjadi di ranah K-Pop. Dengan perilisan album, jadwal yang seakan tak terhenti, hingga ketakutan akan tanggapan publik terkait musik yang mereka rilis, terkadang membuat para idola tertekan.

Sebelum meninggal dunia pada 2017, Jonghyun SHINEE adalah salah satu selebriti yang terbuka soal kesulitan yang ia hadapi. Dalam sebuah wawancara, ia mengaku sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada orang lain tanpa rasa takut akan penilaian orang tersebut terhadap dirinya.

Park Kyung BLOCK B juga pernah membahas gangguan mental yang mungkin dihadapi para idola. Menurutnya, para idola kesulitan untuk mengekspresikan emosi mereka.

"Para idola tak punya banyak kesempatan untuk mengekspresikan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Apalagi pekerjaan mengharuskan para idola K-Pop untuk menyembunyikan emosi mereka," ungkap Park Kyung dalam sebuah wawancara.

Dengan sejumlah kasus idola K-Pop yang meninggal dunia secara tiba-tiba, para agensi K-Pop pun berusaha melindungi artis mereka sebisa mungkin agar kesehatan mental mereka tetap terjaga.

Namun sekeras apa mereka mencoba, para manajer dan star agensi tak bisa melindungi mereka sepenuhnya. Seperti misalnya para selebriti yang memilih membaca komentar-komentar jahat di internet. Hal ini menjadi salah satu alasan kesehatan mental para idola K-Pop terganggu.

"Aku dulu kerap merenungkan komentar-komentar jahat yang ditulis oleh netizen dalam waktu 5 detik seperti, 'Aku tidak suka pria ini.' Namun aku memikirkan kata-kata itu selama 5 jam ke depan," ujar RM BTS.

Kesehatan mental para idola K-Pop pun pada akhirnya menjadi salah satu kekhawatiran fans. Saat ini mulai banyak fans yang saling bahu membahu menutupi komentar-komentar jahat di media sosial dengan komentar positif.

Pada akhirnya bukan hanya fans yang mendapatkan semangat dari para idola, tetapi juga sebaliknya. Kini fans pun menjadi elemen penting bagi para idola, tak hanya dalam kemajuan karier mereka, tetapi juga menjaga kesehatan mental.

Lalu apa pendapat agensi K-Pop terkait kesehatan mental para idola K-Pop? Simak di K-Spotlight berikutnya.




Simak Video "Bangun Kebahagiaan Anak Selama Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com