Hal itu lah yang sempat membuat Dhyo Haw dilema. Pada awalnya, Dhyo Haw merasa bahwa reggae perlu adanya revolusi untuk bisa diterima oleh masyarakat.
Namun, kini penikmat musik Indonesia justru mulai terbiasa dengan musik reggae seutuhnya. Hingga akhirnya, Dhyo Haw melihat tak perlu 'bumbu' lain agar reggae bisa dinikmati orang banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gue udah coba beberapa cara (tambahkan unsur musik lain) untuk bisa nge-grab. Tapi ternyata sekarang justru pendengar lebih pinter, mereka nggak suka reggae dibikin pop karena sekarang udah ngerti," lanjutnya.
Meski begitu, Dhyo Haw tak berkecil hati. Lewat major label, Dhyo Haw ingin membuat suguhan musik reggae bisa lebih terdengar merakyat.
Selain itu, Dhyo Haw juga ingin jadi salah satu pejuang musik reggae Indonesia. Mengikuti beberapa 'dedengkot' musik reggae lainnya.
"Visi gue adalah dari puluhan band di Indonesia. Ya ada Tony Q, ya memang udah legend banget. Lewat dari Warner pengen ada pejuang reggae Indonesia," tutupnya. (fk/ron)











































