Ternyata, memang itulah hal yang paling membedakan antara Tulus dan penyanyi pria lainnya. Di generasi solois hari ini, dialah satu-satunya penyanyi dan penulis lagu dengan ciri khas seperti itu. Semua bersumber pada kecintaannya terhadap bahasa Indonesia.
"Mungkin gini, gue bikin lagu dari tulisan-tulisan gue. Jadi gue menawarkan lirik-lirik yang puitis, sastra-sastra postmodern yang mengedepankan ritma tapi tidak sepenuhnya begitu. Karena bagi gue bahasa Indonesia itu bagus banget," ungkapnya kepada detikHOT di suatu siang di Kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Dengan lugas pelantun 'Satu Hari di Bulan Juni' itu juga mengungkapkan bahwa di setiap penulisan liriknya, dirinya selalu mengandalkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai acuan.
"Gue senatural itu, referensi gue adalah KBBI. Gue mungkin salah satu orang yang menyadari bahwa bahasa Indonesia itu bunyinya bagus. Sangat potensial untuk dijadikan lirik lagu. Gue bangga dengan bahasa Indonesia, memang bahasa gue, jadi kayanya nggak ada alasan buat bilang nulis lirik dalam bahasa Indonesia itu susah," tegas penyanyi 26 tahun itu.
Simak misalnya ketika Tulus menuliskan lirik di lagu yang menceritakan masa kecilnya, 'Gajah', "Kau temanku, kau doakan aku / Punya otak cerdas, aku harus tangguh / Bila Jatuh, Gajah lain membantu / Tubuhmu di situasi rela jadi tamengku."
Ada juga sebuah lagu cinta berjudul 'Bunga Tidur' yang tak kalah puitis, "Bekas gincu di sudut bibir kiri / Di depan cermin Sabtu pagi / Aku tak tahu ini punya siapa."
Berikutnya, masih ada cerita tentang kegiatan bermusik Tulis di masa sekolah, ketika dia meminta restu sang ibu untuk menjadi penyanyi, hingga kisah lucu saat Tulus baru meluncurkan debut albumnya. Pantau terus detikHOT!
(hap/mmu)