Pembahasan pertama akan mulai dari proses kreatif dari lagu-lagu merdunya yang sangat menghanyutkan. Di suatu siang, Tulus dan detikHOT berbicang-bincang di sebuah kedai kopi, di Bilangan Sarinah, Jakarta Pusat.
"Gue nggak punya latar belakang pendidikan musik, bisanya gue pakai intuisi (pemahaman tanpa rasionalitas, perasaan yang kuat akan sesuatu), hampir semua seperti itu. Misalnya, gue mau lagu yang ini suasananya 60an, nah nanti produser gue yang menerjemahkan mau gue itu," ujar Tulus menjelaskan.
Hebatnya lagi, ketika menulis lirik, pelantun 'Gajah' itu sudah membayangkan akan seperti apa irama musiknya. "Kalau gue menganggap lagu itu seperti manusia, sementara musik, bajunya. Dalam proses menulis lagu itu seperti membangun sesuatu, lagu itu bagai sosok, jiwanya itu lirik, fisiknya itu nada," tuturnya berfilosofi.
"Jadi kalau gue nulis lirik sudah ngebayangin bajunya seperti ini, lalu arranger gue itu membuatkan baju yang sempurna," lanjutnya.
Banyak hal yang membuat orang penasaran tentang sosok Tulus. Pemilihan kata dalam lirik yang penuh nuansa sastra, pekerjaannya sebagai arsitektur, sampai kepada ritual khusus yang dilakukan pelantun 'Sepatu' itu sebelum dan sesudah tampil. Simak penuturannya di detikHOT!
(hap/mmu)











































