Ikut Tolak UU Cipta Kerja, K-Popers Juga Melek Isu Politik

Tim detikcom - detikHot
Rabu, 07 Okt 2020 15:27 WIB
SUWON, SOUTH KOREA - JUNE 18:  A South Korean fan (L) of a boy band, Exo, (not shown) holds a banner as a K-Pop band perform on stage on June 18, 2016 in Suwon, South Korea.The particular concert was organized by the city government of Suwon, commemorating the 220th anniversary of Suwon-Hwaseong Fortress, a UNESCO heritage site. It featured 25 K-Pop idol groups and solo artists for two days: June 17 and 18, 2016, drawing more than 10,000 visitors. The South Korean government, both on a central and local level, try to boost tourism by sponsoring and directly organizing K-Pop concerts in big venues. The fans come from Korea as well as Japan, China, and Southeast Asia, as the popularity of K-pop had rapidly grown after it started in Japan in the early 2000s, and expanded its fan base to teenagers and young adults in China, Southeast Asia, and as far as Latin America.  (Photo by Jean Chung/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

K-Popers tidak hanya aktif dalam memberikan dukungan kepada idolanya. Namun, mereka juga keras dalam menyuarakan pendapatnya terkait isu-isu sosial dan politik yang tengah berkembang.

Seperti heboh Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang belum lama ini disahkan DPR. Berbondong-bondong berbagai elemen masyarakat menyuarakan penolakannya dan membuat tagar di Twitter, juga menandatangani petisi.

K-Popers menjadi salah satu golongan yang ikut aktif mempopulerkan tagar ini. Bahkan membuat follower-follower mereka yang bukan dari Indonesia, ikut membantu dan meramaikan sejumlah tagar seperti #OmnibusLawSampah hingga #DPRRIKhianatiRakyat.

Beberapa juga mengunggah video berupa lagu-lagu K-Pop yang senada dengan narasi protes. Seperti akun @leonjuin yang mengunggah video berupa kumpulan video-video yang diambil saat demo mahasiswa menolak RUU KUHP dan Revisi UU KPK pada 2019 dengan latar belakang lagu BTS bertajuk Not Today.

Ia meminta para follower untuk membalas tweet video tersebut dengan tagar-tagar dan pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan terkait UU Cipta Kerja dan DPR.

Hal tersebut membuat tagar-tagar penolakan atas UU Cipta Kerja menjadi trending topic dunia dan menempati posisi pertama. Hal ini membuktikan para fans K-Pop tak hanya merupakan golongan yang bahu-membahu, tetapi juga sadar dengan isu-isu politik.

Tak hanya terjadi di Indonesia saja, fans K-Pop di seluruh dunia juga ikut turun membantu meramaikan gerakan Black Lives Matter. Bahkan sejumlah fandom di seluruh dunia ikut memberikan dukungannya lewat sumbangan.

Begitu juga ketika Donald Trump menggelar rally untuk kampanye politik di Tulsa, Oklahoma. Kala itu fans K-Pop menyabotase acara dengan mendaftar online untuk mendapatkan tiket gratis yang pada akhirnya tak ada satu pun dari mereka yang datang. Sehingga kampanye politik Trump seakan kosong tanpa banyak pendukung yang hadir.



Simak Video "Puan: Butuh Atensi Seluruh Komisi DPR Terkait Implementasi UU Ciptaker"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/nu2)