William Laseroms, seorang komposer asal Belanda yang tergabung dalam tim Future President-lah yang menjadi orang di balik kesuksesan 'Electric Shock'. Mencoba menawarkan lagu berjudul asli 'Elektrick LightZ' tersebut Bersama dengan Maarten Ten Hove dan Joachim Vermeulen Windsant, Laseroms ditolak banyak label.
"Ketika kami menyelesaikan demo lagu 'Elektrick LightZ' dalam versi Bahasa Inggris, lagu tersebut telah kami tawarkan ke banyak label rekaman tetapi gagal. Sampai akhirnya di awal 2012, SM Entertainment menghubungi kami bahwa mereka mau menggunakan lagu tersebut," tutur William Laseroms kepada detikHOT.
Terpilihnya 'Electric Shock' menjadi lagu andalan di album mini f(x) tahun lalu merupakan sebuah kejutan bagi Laseroms. SM Entertainment memang mengabarinya bahwa mereka akan memasukkan lagu itu ke dalam album f(x) tetapi tidak pernah diberitahu jika lagu tersebut akan menjadi title track.
"Label biasanya tidak akan memberikan informasi kepada kami jika mereka belum yakin 100% terhadap pilihan mereka. Tapi proses menunggu jawaban itu memberikan sensasi yang luar biasa bagi kami. Menyenangkan sekaligus deg-degan," tambah Laseroms.
Ketertarikan Laseroms dan Future President terhadap KPop berawal ketika salah seorang dari perusahaan rekaman memperkenalkannya pada musik tersebut di tahun 2010. Saat itu Laseroms merasa tertantang untuk menciptakan sebuah lagu yang catchy dan sangat berbeda dengan yang sudah pernah dikerjakan sebelumnya.
'Electric Shock' merupakan karya pertama Laseroms dan tim Future President yang berakhir dengan sukses. Laseroms mengakui bahwa lagu tersebut adalah yang paling menantang sepanjang dirinya berkarier sebagai komposer.
"'Electric Shock' adalah tantangan yang besar. Kami harus berinovasi dan melakukan banyak riset sebelum mengerjakan lagu itu. Kami mengerjakannya sekitar dua minggu dan sangat bangga akan hasilnya," pungkas Laseroms.
(ron/mmu)











































