Hot Profile

Piet Pagau, Dari Pendeta, Kyai Hingga Mayat

- detikHot
Jumat, 28 Mar 2014 17:58 WIB
Piet Pagau (herianto/detikhot)
Jakarta - Aktor senior Piet Pagau bermain film dan sinetron tanpa jeda sejak 1977 hingga sekarang. Tentu banyak kisah menarik sepanjang kiprah pria 63 tahun tersebut.

Belum lama ini, detikHOT menemui Piet di Gedung Produksi Film Negara (PFN), Otista, Jakarta Timur. Sosok yang identik dengan kumis tebalnya itu pun bercerita banyak hal tentang kiprahnya sebagai aktor.

Bagi Piet, menjadi aktor adalah mata pencahariannya. Sejak dulu hingga kini, sosok yang tengah syuting film 'Garuda Superhero' itu mengaku tidak pernah pilih-pilih peran.

"Mau itu jadi pemeran utama, pemeran pembantu, atau figuran sekalipun, saya sikat semua. Karena buat saya, aktor ini adalah mata pencaharian," ungkap sosok yang memakai kaos warna putih, dipadu celana jeans biru itu.

Berakting sejak 1977 hingga kini, Piet mengaku sudah memerankan banyak karakter. Ia merasa senang dengan profesinya karena bisa menjadi siapa saja. Hal itu menurutnya hanya bisa didapatkan dengan menjadi seorang aktor.

"Saya bisa jadi apa saja di sini. Saya pernah berperan jadi kyai, pendeta, pilot, bupati, jendral, preman, semua. Bahkan figuran jadi mayat saja saya pernah," bebernya seraya tertawa.

"Selain itu, saya pernah juga berperan jadi komandan tentara. Lah, tentara beneran saja belum tentu bisa kan? Itu enaknya," sambung Piet. Tawanya makin keras menggema di ruangan yang tidak terlalu besar itu.

Namun ditambahkan Piet, ada satu peran yang belum pernah dicobanya. Yaitu, peran banci. Ia mengaku tak akan rela mencukur kumis tebal kebanggannya demi memainkan karakter tersebut.

"Kalau dibilang aktor itu musti serba bisa, saya tidak setuju. Kenapa? Karena saya nggak bisa jadi banci," cetusnya seraya tertawa. Ia beberapa kali terbatuk sebelum melanjutkan obrolan.



Piet berkata, dirinya tak pernah sedikit pun merasa jenuh berkarier di dunia film. "Ini sudah jadi bagian dari hidup saya," ucap pria asal Kalimantan Barat tersebut dengan mimik wajah serius.

"Di profesi lain, kalau atasan lagi lewat, bawahan harus nunduk, hormat, diam. Sedangkan di film, produser lewat, kita bahkan nggak perlu menurunkan kaki dari atas meja," bebernya.

"Di dunia perfilman ini, perasan saya merdeka. Itu yang membuat saya nyaman," tandas pria yang mengaku akan terus berakting hingga tubuhnya tak mampu lagi tersebut mengakhiri perbincangan.

(bar/hkm)