Video 20Detik

Kamus Jaksel yang Menggelitik Hingga Bikin 'Kesel'

detikTV, 20detik - detikHot
Minggu, 06 Feb 2022 18:01 WIB
Jakarta -

Istilah 'bahasa anak Jaksel' terus menggema di ruang media sosial. Sejumkah kata-kata berbahasa inggirs seperti; which is, literally, actually, dan basically digunakan sebagai kata penghubung lalu dicampur dengan bahasa Indonesia. Fenomena ini pun menjadi bahan konten dan menuai banyak perhatian netizen.

Bahasa Jaksel sebenarnya sudah booming sejak beberapa tahun lalu. Istilah 'bahasa jaksel' menyindir kebiasaan penggunaan bahasa 'gado-gado' yang kerap dipakai anak-anak muda di kawasan Jakarta Selatan.

Oza Rangkuti adalah salah satu kreator konten yang banyak menyoroti fenomena bahasa jaksel. Konten-konten itu ia unggah di akun sosial medianya @ozarangkuti , dan acapkali menggelitik hingga viral.

Dari video di akun Oza , banyak pula yang mengungah ulang (reposting) di berbagai media sosial, seperti TikTok dan Twitter. Unggahan-unggahan itu menuai banjir komentar warganet, mulai dari yang merasa lucu, kesal dan merasa aneh dengan kosakata yang diucapkan.

Oza mengaku seluruh kontennya berangkat dari keresahan terhadap penggunaan istilah-istilah asing yang kurang tepat dan berlebihan. Sebagian besar unggahannya juga mengaitkan tren bahasa gaul dengan keluh kesah anak muda, seperti 'work life balance, mental health, anxiety, hingga OCD.

"waktu itu saya bikin konten podcast tentang abg-abg yang baru kerja dikit ngeluh, lembur dikit ngeluh, weekend masuk kerja ngeluh. Dan ternyata banyak dari mereka yang tersinggung dan menanggapi konten saya dengan istilah-istilah itu.", papar Oza

Lalu, adakah dampak yang perlu dikhawarirkan dari penggunaan bahasa gaul bilingual itu?

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati menilai munculnya 'kamus jaksel' muncul sebagai representasi budaya. Dalam pandangan Devie, mencampur bahasa merupakan lambang hierarki yang menunjukkan status sosial, pendidikan, hingga kehormatan.

"karena memang masyarakat indonesia itu terkenal banget sebagai masyarakat hirarkis, artinya ada orang-orang yang ada di posisi paling tinggi, apapun yang mereka lakukan, mereka katakan, itu biasanya akan menjadi panutan.", jelas Devie di program Viral detikcom.

(mjt/mjt)