Kisah Keris Tangguh Kajoran dan Koripan Asli Klaten, Ini Legendanya

Achmad Syauqi - detikHot
Sabtu, 15 Jan 2022 19:47 WIB
Tiga keris tangguh Koripan dan Kajoran saat dipamerkan di Blantikan Tosan Aji Patosaka.
Tiga keris tangguh Koripan dan Kajoran saat dipamerkan di Blantikan Tosan Aji Patosaka. (Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Kabupaten Klaten diyakini memiliki sejarah perkerisan yang panjang di masa lalu. Setidaknya ada dua tangguh ( perkiraan masa pembuatan) keris, yaitu tangguh Kajoran dan Koripan.

"Di daerah Koripan (Desa Kranggan, Kecamatan Delanggu) dan Kajoran ( Desa Kajoran, Klaten Selatan) itu sejarahnya ada empu. Di Koripan malah sampai sekarang masih jadi sentra pande besi," tutur Kurator keris, Sigit Yunarka pada wartawan ditemui di Blantikan (bursa) Omah Keris Paguyuban Tosan Aji Klaten (Patosaka), Sabtu (15/1/2022).

Menurut Sigit, di kawasan Koripan diyakini ada trahnya Empu Supa yang sangat produktif dalam membuat keris. Sedang daerah Kajoran merupakan asal empu Brajaguna yang terkenal.

"Kajoran itu untuk dunia tosan aji wilayah luar biasa, karena empu hebatnya Surakarta asalnya dari sana (Kajoran), namanya empu Brajaguna. Ada juga empu Tirtadangsa yang makamnya di Kecamatan Ngawen," terang Sigit.

Dikatakan Sigit, trah atau keturunan empu Supa di Koripan berasal dari empu Supa sepuh. Satu alur dengan empu Supa daerah lainnya.

"Yang di Koripan itu trah empu Supa sepuh. Supa itu nama trah pembuat keris di Klaten ada, di Gresik ada dan juga daerah lainnya," lanjut Sigit.

Tiga keris tangguh Koripan dan Kajoran saat dipamerkan di Blantikan Tosan Aji Patosaka.Tiga keris tangguh Koripan dan Kajoran saat dipamerkan di Blantikan Tosan Aji Patosaka. Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Dua tangguh keris itu, sambung Sigit, masih ada sisanya di Klaten. Dari tangguh Koripan ada satu bilah dan tangguh Kajoran ada dua bilah.

"Satu bilah yasan (buatan) empu Jirah dari Koripan, satu yasan Kajoran di era Mataram Islam jaman Sultan Agung (1613-1645 M). Keduanya dapur sengkelat," terang Sigit.

Ada satu lagi bilah keris tangguh Kajoran, sebut Sigit, tetapi lebih muda karena di era Pakubuwono. Era Pakubuwono itu berbeda dengan era Sultan Agung.

"Yang membedakan era Sultan Agung dengan era Pakubuwono itu ada di slorok (lapisan besi di warangka). Era Sultan Agung besinya ditempa dan era Pakubuwono ada yang sudah cetakan pabrik," imbuh Sigit.

Dua bilah keris sisa tangguh Kajoran dan Koripan di era Mataram Islam itu, kata Sigit, semua berpamor kulit semangka. Sedangkan yang tangguh Kajoran muda pamornya beda

"Tangguh Kajoran yang dipamerkan disini berpamor kulit semangka. Tapi yang Kajoran muda berpamor segara muncar," tambah Sigit yang juga penasihat Patosaka.

Tiga keris tangguh Koripan dan Kajoran saat dipamerkan di Blantikan Tosan Aji Patosaka.Tiga keris tangguh Koripan dan Kajoran saat dipamerkan di Blantikan Tosan Aji Patosaka. Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Ketua Patosaka, Yogi Yuwono mengatakan di Klaten ada tangguh Kajoran dan Koripan di masa Mataram Islam. Oleh karena itu keris tangguh Kajoran dan Koripan dijadikan maskot bursa.

"Kita pakai maskot tangguh Kajoran dan Koripan yang dimulai masa Mataram. Kita pakai maskot karena saat ini di dua wilayah itu masih ditemukan sisa peradaban, pande besi dan makam- makam bersejarah," ucap Yogi pada wartawan.

Penelusuran detikcom, keris tangguh Koripan sendiri disinggung dalam bait Serat Centhini. Tangguh Koripan dibahas di Pupuh 109 Pangkur berbunyi, "Dene tangguh Koripan dènwastani, sikutan kêmba tan sêmu, mung gangsing wêsinira, pamor adêg kang akèh sanak puniku. Kalamun tangguh Madura, sikutan dhèmês mantêsi,". (Adapun tangguh Koripan disebut sikutannya agak kendor. Besinya kering dan pamornya memakai pamor adeg, tetapi yang banyak adalah pamor sanak).

(dar/dar)