ADVERTISEMENT

Pergaulan

Kepak Sayap Pesta Suci Holywings

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Jumat, 03 Des 2021 15:11 WIB
Jakarta -

Dunia pergaulan hari ini memiliki satu nama brand yang berkibar luas di berbagai daerah Indonesia. Holywings, sebuah tempat nongkrong, yang kemudian tidak berlebihan kalau kita euforianya menimbulkan fenomena tersendiri.

Holywings, menempatkan dirinya sebagai salah satu destinasi pesta berbagai kalangan. Sajian hiburan musik band dan Disc Jockey (DJ) setiap harinya. Ragam makanan, mulai dari ringan hingga brisket premium. Serta, macam-macam minuman yang dapat dinikmati bagi mereka yang menikmati minuman alkohol atau tidak. Lengkap!

Bagaimana kepak sayap Holywings dari Pulau Sumatera hingga Sulawesi bisa terjadi? 30 gerai telah terbang meramaikan langit-langit malam yang gemerlap sejak pertama kali berdiri 2015 lalu. Pada Jumat malam di salah satu gerainya, Holywings Dragon di Pantai Indah Kapuk, detikHOT mencari jawaban dengan mendatangi dua pendiri Holywings, Ivan Tanjaya dan Eka Setia Wijaya.

Sekitar pukul 19.00 WIB, tempat itu masih lengang. detikHOT membuka obrolan, tentang cerita panjang perjalanan mereka.

"Awalnya kami bikin kedai nasi goreng di Kelapa Gading, tapi hasilnya nggak maksimal. Kita berpikir, gue pribadi kan kuliah di Beijing, terus kenapa nggak kita coba bikin sesuatu seperti waktu dulu di Beijing, tempat kumpul-kumpul untuk anak muda dengar live music tiap hari," buka Ivan.

"Sejak outlet pertama buka, kita memang langsung targetkan di banyak kota. Tahun pertama itu dari satu outlet terus jadi empat. Tahun kedua dari empat jadi 10," tambah Eka.

Ternyata, di balik kepakan sayapnya itu, kata 'holy' yang disematkan pada nama Holywings punya arti yang sesungguhnya. Holy yang dalam bahasa Inggris berarti suci-bersih, memang diaplikasikan langsung ke dalam konsep dasar. Bahwa, Holywings ingin jauh dari semua hal yang tidak baik.

"Image Holywings itu frontal, bersih. Kita dari awal mau bikin tempat hiburan yang bersih di banyak kota. Makanya, pemilihan tempat kita semua di muka jalan raya, kaya restoran cepat saji. Desainnya kaca besar di depan, jadi orang bisa melihat, transparan. Di tempat kita nggak ada ruangan privat. Jadi, nongkrong di bar, nongkrong di Holywings itu ya bukan hal tabu, tapi keren. Kita mau menciptakan itu," sambung Eka.

HolywingsPanggung musik di Holywings Foto: Holywings/detikHOT

"Intinya kita selalu tiap tempat yang kita bikin, kalau bisa ada potensi citra yang bikin jelek, kita hilangin. Pegawai kita semua juga tes narkoba rutin," tambah Ivan.

Bagi yang belum tahu, Holywings bukan hanya usaha tempat nongkrong tapi juga memiliki beberapa turunan usaha lainnya. Mulai dari Restoran & Bar, Holywings Club, Holywings Records, Talent Management, FMCG (merchandise, minuman alkohol) sampai ke produk makanan olahan. Oh iya, bicara makanan, Holywings ternyata memang tidak main-main. Ketika bertamu, detikHOT mencoba beberapa menu makanan di situ, dan rasanya, tidak mengecewakan.

"Semua tempat yang jual minuman itu sama. Makanan justru jadi salah satu yang membedakan kita. Holywings seserius itu soal makanan makanya kita sampai bangun central kitchen sendiri," jelas Ivan.

Jika memang pertumbuhannya sepesat itu, apa sih yang kemudian membuat Holywings di berbagai daerah di Indonesia ini bisa diterima dengan baik? Apa benang merahnya?

"Kalau ditanya seperti itu, kita selalu kembalikan niatnya ke cabang pertama dulu. Kita mau jadi tempat nongkrong yang nggak negatif. Kebiasaan itu yang mau kita ciptakan. Niat itu yang menjadi benang merahnya. Kalau lainnya, secara desain saja," jelas Ivan lagi.

Holywings sendiri juga memiliki aplikasi di mana para penggunanya dapat mendaftar sebagai anggota dan mendapatkan keuntungan tertentu. Kurang lebih, ada 160.000 orang yang resmi terdaftar sebagai Holy People-nama pelanggan Holywings.

Baca juga: Stadium Reborn!

Dengan latar belakang tersebut, sah rasanya jika detikHOT menanyakan, siapa yang hari ini mereka anggap sebagai kompetitor? "Hard Rock mungkin ya," jawab Eka sembari tertawa.

"Holywings sudah bukan bar. Kami adalah brand. Brand yang semoga bisa sampai keluar Indonesia," Ivan Tanjaya menambahkan.

Bagaimana bisa, nama sebesar Hard Rock menjadi pesaing? Apa maksud dua pengusaha muda itu? Lalu, bagaimana para pendiri menanggapi sejumlah teguran yang datang ke Holywings sampai-sampai menyegel tempat mereka? Belum lagi stigma buruk yang disematkan orang? Ikuti terus 'Kepak Sayap Pesta Suci Holywings' bersama detikHOT.

(mif/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT