Mahaguru Umbu untuk Sastra Indonesia

Heri Susanto - detikHot
Selasa, 06 Apr 2021 12:37 WIB
Jogja Library
Mahaguru Umbu untuk Sastra Indonesia (Foto: Heri Santoso/detikcom)
Yogyakarta -

Umbu Landu Paranggi tak sekedar sebagai guru sastra. Mantan anak didiknya di Persada Studi Klub (PSK) Malioboro, Mustafa W Hasyim menilai Umbu sebagai mahaguru sastra Indonesia.

"Umbu mengajarkan seorang sastrawan harus bertanggung jawab terhadap karya-karyanya, baik secara intelektual, moral kemanusiaan, bahkan secara spiritual," kata Mustafa saat dihubungi detik.com Selasa (6/4).

Mustafa menjelaskan, karena besarnya tanggung jawab itu, Umbu menekankan pentingnya proses kreatif dalam berkarya dan bagaimana mendidik diri sendiri menjadi manusia yang berkualitas secara karya dan secara pergaulan.

"Umbu membina atau mengajak anak muda berproses mencintai sastra adalah dengan pendekatan personal. Jadi semua murid dan yang pernah terlibat dengan komunitasnya semua merasa dekat dengannya," kenangnya.

Kiprah Umbu dalam membesarkan sastra begitu totalitas. Ia memulai dengan membuat rubdik Sabana di Mingguan Pelopor Jogja yang kantornya di Jalan Malioboro 115A atau bersesebelahan dengan Perpustakaan Negara Yogyakarta sekarang Jogja Library.

Dia juga mendirikan komunitas sastra bernama PSK bersama Suwarno Pragolapati, Iman Budhi Santosa dan Soeparno S Adhy. Dengan mengasuh rubrik Sastra Sabana ini Umbu menerima kiriman puisi, cerpen, esai-esai dari anak muda Yogyakarta yang waktu itu semua anak SMA.

"Setiap kiriman, oleh Umbu diberi komentar, sehingga yang mengirim merasa senang dan terbimbing. Pada proses selanjutnya, kiriman puisi dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, yang masuk Pawai Puisi, ini karya penulis. Lalu yang sudah meningkat kualitasnya dimasukkan ke ruang Kompetisi. Disini calon penyair diadu atau dipertandingkan," katanya.

Cara mempertandingkan, setiap menulis puisi harus disertai dengan Esai pendek sebagai pertanggung jawaban penulisan puisi itu. Proses kreatifnya dideteksi Umbu Landu Paranggi lewat esai yang dikirim.

"Dan ketika puisi calon penyair makin meningkat, juga kualitas esai dia, maka dia suatu ketika dianggap lolos kompetisi, lalu semacam diwisuda menjadi penyair, karya dia masuk ruang Sabana," katanya.

Kalau karya puisi sudah masuk dan dimuat di ruang Sabana, penyairnya sudah percaya diri sebagai penyair.

"Jadi, dengan menulis komentar dan memacu kreativitas murid-muridnya maka mereka yang sungguh sungguh berusaha bisa muncul menjadi penyair tangguh.
Tapi ini masih belum cukup. Selain diuji secara tertulis lewat karya ini, Umbu juga membina mental kreatif di lapangan dalam hidup sehari-hari," katanya.

Pertama, muridnya diajak mengamati dan menghayati kehidupan di kota Yogyakarta dengan berjalan kaki mengelilingi kota malam hari. Dari Malioboro keliling, lalu kembali ke Malioboro. Selama perjalanan keliling itu Umbu diam tidak berkata apa-apa. Baru setelah kembali ke Malioboro dia akan bertanya tentang pengalaman puitis yang dialami selama perjalanan malam. "Tulis, jadi puisi," katanya.

Ujian di lapangan kedua adalah dengan mengajak murid dia bersosialisasi dengan masyarakat umum dan luas. Mengadakan pertemuan mingguan di kantor, mengadakan perjalanan ke luar kota dan bertemu dengan anak mudanya. Berdialog dan baca puisi atau mempertunjukkan poetry singing. "Luar kota yang sering dikunjungi adalah Kotagede, Bantul, Borobudur, Klaten dan sebagainya," jelasnya.

Maksud Umbu Landu Paranggi, dengan melakukan semua ini, muridnya tidak hanya diproses menjadi penyair, tetapi juga diproses menjadi manusia yang utuh, yang punya kecerdasan budaya dan kecerdasan sosial.

Sastrawan Malioboro yang berproses bersama Umbu Landu Paranggi antara lain para pendiri PSK itu, lalu Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Ag, Yudhistira Ardi Noegroho, Jabrohim, Agus Darmawan Tantono, Sutirman Eka Ardhana, Atas Danusubroto, Budi Sarjono, AY Suharyanto, Erick Endranatan, Korrie Layun Ramoan, Suminto A Sayuti, Syaiff Bahkan, Mustofa W Hasyim, Gunoto Sapari dan masih banyak lagi.

(dar/dar)