Hal tersebut dikatakan oleh salah satu kurator Mikke Susanto. "Lukisan Presiden Sukarno hanya satu dan satu-satunya yang masih baik dan kualitasnya masih maksimallah untuk dilihat," kata Mikke, kepada detikHOT belum lama ini.
Seperti yang dikutip dari katalog pameran, lukisan 'Rini' dikerjakannya pada 1958 silam di Istana Tampaksiring, Bali. Karya ini menghiasi dinding kantor di Istana Bogor dan secara khusus dipersembahkan sebagai penghormatan terhadap proklamator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelukis Dullah pun menjasdi saksi atas lukisan ini. Dikutip dalam buku koleksi lukisan Sukarno, seperti dimuat katalog, ia mengatakan kisah tentang Rini. Ketika Bung Karno mengajak Dulla untuk beristirahat di Bali, Dullah mencoba membuat sketsa yang sempat tidak dikerjakannya di Jakarta.
"Pada bulan Nopember masuk Desember tahun 1958 Bung Karno kembali lagi ke Bali beristirahat selama sepuluh hari. Dullah tidak ikut. Tahu-tahu selama sepuluh hari di Bali Bung Karno melukis menjelesaikan sketchnya Dullah hingga selesai menjadi sebuah lukisan seperti jang tertjantum dalam halaman ini. Tentu sadja banjak dibuat perobahan-perobahan dan tambahantambahan dari sketch semula."
Nantinya, usai peresmian yang dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Jokowi pada Senin (1/8/2016) pagi, lukisan 'Rini' segera bisa dikunjungi dan dilihat publik. Pameran '17/71: Goresan Juang Kemerdekaan' akan berakhir sampai akhir Agustus mendatang.
(tia/wes)










































