Hal senada juga dipaparkan oleh T.M. Huzam, Koordinator Pelatih di Marching Band Masjid Istiqlal. "Mungkin nantinya bisa ya para pengurus atau para panitia yang berkaitan dengan kejuaran nasional itu benar-benar memperhatikan tim marching band yang layak untuk dikirim (ke kompetisi internasional)," ujarnya kepada detikHOT (28/01/2014).
Ia mengharapkan adanya bantuan dana dari pihak-pihak yang memiliki wewenang dalam pergerakan marching band di Indonesia untuk memberangkatkan para putera-puteri bangsa yang berprestasi di bidang ini. Untuk berkompetisi dengan pesaing dalam ranah global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintahnya memperhatikan sekali. Bahkan pemain-pemain dari luar seperti Indonesia yang ikut kejuaraan di Thailand akan diberikan akomodasi gratis," jelasnya.
Ia berharap nantinya Pemerintah akan semakin mendukung perkembangan marching band di Indonesia. "Para panitia dari Grand Prix Marching Band itu nantinya kan terkait dengan KONI, bisa betul-betul memberikan tak hanya dorongan tapi juga materi. Menilai betul-betul siapa yang pantas diikutikan ke kompetisi internasional."

Kenyataannya memang para pemain marching band perlu memiliki modal khusus. Seperti apa yang diceritakan Cynthia dalam wawancara terpisah. Ketika ia bersama kelompok marching band Madah Bahana Universitas Indonesia berangkat untuk mengikuti kompetisi di Thailand, ada biaya yang harus ia keluarkan.
"Seperti kemarin ke luar negeri, kita ada iuran per anggota. Biasanya dari tahun ke tahun tidak ada iuran wajib anggota, tapi kadang masing-masing anggota suka membuat uang kas untuk seksinya sendiri," kata Chyntia.
"Untuk anggaran lainnya, kita funding-nya selain dari Rektorat Universitas Indonesia, juga mencari dana sendiri seperti tampil di sebuah tempat. Ada donasi dan tim dana usaha menjual suvenir atau merchandise."
(ass/utw)










































