Misalnya Devy. Dia mengatakan dulu pernah punya banyak koleksi prangko dimulai saat masih Sekolah Dasar. "Kalau saya mengoleksinya berdasarkan bentuk. Saya memang suka prangko yang bentuknya beda, seperti bulat, segitiga atau persegi panjang," ujarnya kepada detikHOT (10/01/2014).
Berdasarkan pengalamannya, memang prangko dari sejumlah negara tetangga seperti Belanda atau Australia lebih banyak memiliki koleksi prangko dengan bentuk yang beragam, maka otomatis Devy banyak mengkoleksi prangko dari luar negeri. "Biasanya kalau Eropa itu bentuknya unik-unik."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda lagi kisah dari Zulfikar Arif, seorang desainer grafis berusia 27 tahun ini mulai mengoleksi prangko karena mendapat empat album prangko ibunya yang sudah tak terurus.

"Tahun ini, ketika sedang membongkar-bongkar barang, ibu saya menemukan album prangko lamanya dan memberikan itu buat saya," ujarnya (11/01/2014). Ia menjelaskan bahwa dengan melihat desain-desain prangko masa lalu itu ia bisa tahu bagaimana karakter desain di masa itu, dan hal ini menarik baginya.
Sementara ibunya, T.W. Yuningsih,56 tahun, bercerita bahwa pada masa mudanya dulu, sekitar tahun 1974-an, ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia mulai rajin mengoleksi prangko yang didapatkan dari amplop surat, saat itu ia aktif berkirim surat dengan sahabat pena.
"Dulu kan saya tinggal di asrama saat masih SMA, juga belum ada ponsel seperti sekarang, jadi cara komunikasi itu dengan sahabat pena. Kalau bertemu yang hobinya sama kita juga bisa bertukar prangko," ujarnya. Yang jadi pilihan pertamanya ketika membeli prangko adalah bentuknya kemudian baru desainnya.
Ada seri yang ia kumpulkan yakni set-set nominal, misalnya dari negara Belanda. "Mengumpulkan ini jadi satu set bisa dua tiga tahun." Seiring kesibukan, ketertarikannya mulai pudar. Ia mengaku berhenti mengoleksi barang pos ini saat menikah dan punya anak. Namun ia senang ketika tahu anaknya mulai menunjukan minat pada prangko.
(ass/utw)











































