Disela itulah, tangannya tak berhenti menggores sketsa. Ada yang menceritakan tentang bangunan, candi, kota, dan alam semesta. Pelan-pelan terkumpul 104 karya yang sayang jika hanya disimpan sebagai kenangan.
Bertempat di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Romo Mudji menampilkan refleksi perjalanan spiritualitas 'Dari Stupa Ke Stupa' selama 9 hari, mulai 8 - 17 Januari 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
*****
Wajah pria 59 tahun ini sumringah memasuki Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Rabu (8/1/2014) malam. Beberapa orang disalami dengan senyuman ramah. Sesekali membalas sapaan dan ucapan terima kasih.
Malam itu, Mudji Sutrisno SJ punya hajatan besar. Pria yang akrab disapa Romo Mudji tersebut membuka pameran tunggal berupa sketsa. Temanya cukup menarik, 'Dari Stupa Ke Stupa'.
Dia bercerita, ada dua alasan utama mengapa stupa yang diangkat ke permukaan. Pertama, pengalaman batin terhadap Candi Borobudur dan keseragaman rasa stupa ketika berada di Gereja Katedral maupun Mesjid Istiqlal.
"Ya, saya merasakan aura spiritual stupa ketika saya ada di Basilika dan Katedral, juga di bangunan-bangunan suci seperti mesjid. Keheningan yang sama itu saya rasakan," kata Romo Mudji.
Dari banyak perjalanan, stupa dimaknai sebagai garba yang memiliki arti sama dengan 'cupala' Katedral, bahkan kubah mesjid. Maksudnya, sebuah tempat (rahim) hening samadhi berwujud arsitektural rumah doa.
"Samadhi hening dengan arsitektur bulat utuh menjadi simbol, bahkan penanda keutuhan ziarah manusia bertemu Tuhannya," ujarnya.
Romo Mudji mencoba mengekspresikan keheningan itu melalui sketsa hitam putih dan berwarna dominan merah, hijau, dan kuning. Proses kreatif sendiri dilakukan sejak Agustus 2013. Baik ketika berada di sebuah tempat maupun rumah sendiri.
(fip/utw)











































