Bagaimana awal perkenalan dengan Moerdiono?
Saya pertama kali ketemu, kenal dengan Pak Moer, ketika kampanye di Bali tahun 1992. Setelah itu saya balik ke Surabaya kemudian pulang ke Makasar. Ketika itu Pak Moer meminta saya untuk kembali ke Jakarta. Kemudian kita naik haji tahun 1993 dan setelah itu kami menikah, 20 Desember 1993.
Setiap Pak Moer main tenis di Setneg, saya selalu hadir. Biasanya seminggu tiga kali saya ada. Dan orang-orang dekat Pak Moer tahu kalau saya adalah istrinya. Bahkan setiap Pak Moer ada kunjungan ke daerah, kadang-kadang saya juga ikut. Sampai pada 1998, saya memutuskan untuk berpisah.
Kehidupan pernikahan dengan Pak Moer seperti apa?
Ya kami hidup seperti layaknya suami-istri biasa. Tapi memang Pak Moer tidak setiap hari tinggal dengan saya. Dia paling berkunjung 2-3 kali saja seminggu. Tahun 1995 saya hamil, tahun 1996, Iqbal lahir.
Apa yang mendasari Machica menikah dengan Pak Moer? Ketika itu apa tidak tahu Pak Moer sudah menikah?
Pada saat itu, dasarnya kita suka sama suka. Kita sama-sama saling mencintai, kita sama-sama saling menyayangi. Kalaupun ketika itu dia sudah menikah atau sudah beristri saya tidak peduli, karena Pak Moer meyakinkan saya kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan dia juga datang baik-baik ke keluarga saya ketika akan meminang saya.
Ketika menikah, apa tidak berpikir dampaknya akan seperti ini?
Saat itu kan saya masih berumur 23 tahun, saya tidak berpikir akan seperti ini. Maklum ketika itu saya masih muda. Kalau saja ketika itu saya berusia seperti sekarang, saya juga tidak akan pernah mau.
Sewaktu menikah dengan Pak Moer, mas kawinnya apa?
Seperangkat alat salat, seperangkat perhiasan emas dan berlian, Al Quran dan uang dua ribu real.
Machica kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Di dalam kotak perhiasan ada anting, kalung dan cincin. Penyanyi yang sudah menikah lagi itu kemudian bercerita soal cincin bermata hitam dan hiasan berlian.
Ini cincin dari Pak Moer ya?
Ini cincin ketika Pak Moer melamar saya di depan Monas. Ketika itu dia bilang kepada saya, kau lihat Tugu Monas itu sayang, Monas itu melambangkan Sang Dewi dan kau adalah Dewi di hatiku sayang.
(eny/eny)











































