Guruh Soekaenoputra meninggal dunia. Sosoknya punya sumbangsih besar untuk dunia hiburan Tanah Air.
Sumbangsih terbesar Guruh bermula dari keberaniannya melakukan revolusi musik pada era 1970-an. Lewat proyek fenomenal Guruh Gipsy (1977), ia memelopori penggabungan rock progresif Barat dengan gamelan Bali secara presisi bersama Abadi Soesman, Chrisye, Keenan Nasution, Oetaje, dan Roni Harahap.
Langkah berani ini tidak hanya menggebrak industri musik domestik, tetapi juga menempatkan musik pop Indonesia di ranah eksperimental yang diakui secara internasional. Menurut dokumentasi ANRI, Guruh Gipsy menjadi bagian dari arsip Guruh Soekarnoputra sebagai pencipta lagu dan komposer.
Lalu sentuhan dingin Guruh melahirkan sederet lagu pop abadi yang melambungkan penyanyi-penyanyi papan atas Indonesia, seperti mendiang Chrisye hingga Vina Panduwinata. Lagu-lagu ciptaannya seperti Damai Tapi Mesra, Kala Cinta Menggoda, Zamrud Khatulistiwa, Renjana, Lenggang Puspita, Galih dan Ratna, sampai Gita Cinta tetap relevan dan kerap dinyanyikan ulang oleh generasi muda hingga hari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di luar ranah musik rekaman, Guruh Soekarnoputra merevolusi seni pertunjukan panggung melalui sanggar Swara Maharddhika yang didirikannya pada 1970-an. Ia menggabungkan seni tari tradisional, koreografi modern, musik kolosal, dan tata panggung megah berstandar internasional.
Lewat sanggar ini pula lahir banyak talenta besar di bidang tari, akting, dan seni pertunjukan Indonesia.
Guruh Soekarnoputra juga berkomitmen tinggi dalam merawat identitas bangsa. Hal itu terlihat dari konsistensinya mengangkat kekayaan kain Nusantara ke panggung hiburan.
Bagi Guruh, hiburan bukan sekadar sarana pementasan, melainkan media untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia.
Kini Guruh Soekarnoputra telah tiada. Ia tutup usia di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pukul 04.16 WIB pada Sabtu (26/9) pagi ini.










































