Pengacara Sarwendah memberikan klarifikasi mengenai beberapa isu yang berkembang belakangan ini.
Dalam wawancara daring, kemarin, Chris menyoroti isu pembagian harta bersama yang belakangan kembali ramai dibahas bersamaan dengan konflik hak anak. Menurut Chris, persoalan pembagian harta sebenarnya sudah selesai dan telah disepakati kedua belah pihak.
"Harta A untuk Sarwendah, harta B untuk Ruben. Sebenarnya sudah clear, termasuk rumah yang ditempati yang ternyata masih dalam cicilan itu juga sebenarnya sudah menjadi hak Sarwendah," kata Chris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chris menegaskan, aset yang diterima Sarwendah dari hasil kesepakatan tersebut pada akhirnya diprioritaskan untuk anak-anak.
"Sarwendah berkali-kali menyampaikan bahwa semua aset yang dia dapat hanya untuk anak. Dia pastikan kepada saya semuanya untuk anak, termasuk yang paling utama adalah rumah," tuturnya.
Menurut Chris, rumah tersebut nantinya juga akan menjadi aset bagi anak-anak mereka.
Chris juga menjawab kritik yang muncul terkait aktivitas Sarwendah yang kerap melakukan pekerjaan dan siaran langsung dari rumah yang ditempatinya bersama anak-anak. Menurutnya, keputusan menggunakan rumah sebagai tempat bekerja justru dilakukan agar Sarwendah tetap dekat dengan anak-anaknya.
Dengan bekerja dari rumah, kata Chris, anak-anak bisa bertemu ibunya kapan saja.
"Langsung di rumah itu melihat ibunya lagi kerja. Datang, senang dong anaknya juga bisa setiap hari ketemu ibunya. Ibunya juga merasa tenang di rumah itu," lanjutnya.
Dugaan Eksploitasi Anak
Ia membantah anggapan, kehadiran anak-anak dalam sejumlah siaran langsung merupakan bentuk eksploitasi demi menaikkan popularitas atau jumlah penonton.
"Jangan dipelintir, seakan-akan anak itu dijadikan senjata untuk menaikkan rating. Tidak. Anak itu memang tinggal di rumah tersebut sehingga, terbuka untuk datang kapan pun," tegas Chris.
Menurutnya, definisi eksploitasi anak tidak bisa disamakan dengan kondisi yang terjadi saat ini.
"Eksploitasi anak itu bukan seperti itu. Eksploitasi anak itu kalau setiap acaranya dipaksa untuk ikut," katanya.
Chris menjelaskan, tidak ada aturan khusus yang membatasi anak-anak ketika Sarwendah sedang bekerja di rumah. Ia bahkan menyebut anak-anak memiliki kebebasan penuh untuk menemui ibunya kapan saja.
Menurut Chris, anak-anak tidak pernah dijadikan bagian dari konsep atau skenario usaha yang dijalankan Sarwendah.
"Itu memang dibebaskan. Anak-anak itu menurut saya bosnya di situ. Karena, setiap rumah tidak boleh ada yang namanya pengekangan terhadap anak. Dan itu juga tidak ada skrip. Anak-anak itu masuk tidak menjadi bagian dari perencanaan usaha," jelasnya.
Ia juga menilai kondisi tersebut justru membuat anak-anak merasa nyaman karena dapat bertemu ibunya kapan saja.
"Anak-anak ini kadang ada yang suka cepat tidur, ada yang suka terbangun kangen ibunya. Bisa ketemu. Kurang bahagia apa tempat itu buat anaknya? Bisa ketemu sama ibunya pada saat dia bangun tidur," katanya.
"Bahkan misalnya tiba-tiba bangun tengah malam untuk ketemu ibunya, tinggal naik melihat ibunya sedang mencari uang buat anak-anaknya," sambung Chris.
Chris juga menegaskan perhatian Sarwendah kepada anak-anak, tidak pernah berkurang meski di tengah berbagai persoalan yang sedang dihadapi.
"Perhatian terhadap anaknya itu sama sekali diberikan 24 jam sama klien kami," ungkapnya.
(fbr/wes)











































