Rumah produksi milik Haldy Sabri dan Irish Bella, HAS Pictures melayangkan somasi kepada aktris Ratu Sofya terkait dugaan penolakan promosi film Dosa Penebusan atau Pengampunan. Selain itu ada pernyataan Ratu Sofya yang keberatan beradegan 17+ di film tersebut, sehingga tak ikut promo film ini.
Perwakilan HAS Pictures, Reza Aditya, mengatakan sikap Ratu Sofya dinilai merugikan pihak production house karena berstatus sebagai salah satu pemeran utama dalam film tersebut.
"Ada permasalahan soal film kita yang akan rilis yang berjudul Dosa Penebusan atau Pengampunan. Apa masalahnya? Salah satu peran utama dari kita, dari film ini, tidak ikut promo di kita dan itu jelas merugikan kita dari PH," kata Reza Aditya di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reza menjelaskan awal mula masalah tersebut. Menurutnya, Ratu Sofya mengaku tidak nyaman dengan isi film, khususnya terkait adegan sex scene.
"Tapi sebelum itu saya mau menjelaskan dulu. Jadi, saudari RS ini enggan ikut promo karena saudari RS ini bilang dia kurang nyaman dengan film ini," ujar Reza.
Meski begitu, Reza menegaskan selama proses produksi berlangsung tidak ada keberatan yang disampaikan oleh aktris berusia 22 tahun itu.
"Padahal sebelum masalah ini terjadi, saudari RS ini dari awal proses casting, dari reading, dan dari proses syuting, dia sangat fun dan sangat nyaman di lokasi syuting. Dan tidak ada keresahan yang kita terima, tidak ada komplain yang kita terima juga," bebernya.
Sementara itu Reza membenarkan adanya adegan dewasa dalam film tersebut. Namun, ia menegaskan adegan itu tidak dibuat secara vulgar ataupun mengarah pada pornografi.
"Nah, yang RS ini yang lempar isu kalau memang ada adegan sex scene di film kita. Memang benar, tapi kita juga tidak sangat mengekspos itu karena bukan cuma sekadar sex scene yang kita mau tampilin di film," katanya.
"Ini ada filosofinya, ini ada ceritanya. Bukan kita ngejual, 'Oh, ini karena ada adegan sex scene jadi kita jualan nih film', nggak gitu. Kita juga bikinnya masih dengan batas-batas yang ya kita tahulah batasnya, enggak vulgar dan tidak mengarah ke pornografi," lanjutnya.
Menurut Reza, persoalan mulai membesar setelah Ratu Sofya membicarakan pengalamannya dalam sebuah podcast yang kemudian viral di media sosial. Sehingga hal itu bertentangan dengan apa yang diterima Ratu kepada rumah produksi ini.
"Podcast-nya juga lumayan viral bahwa dia menyebut kalau dia tidak nyaman dan tidak disediakan body double gitu. Jelas itu bertentangan banget ya dengan fakta yang ada di lokasi, dengan yang disampaikan sama RS ini. Itu bener-bener kayak, 'Kok begitu sih kamu Dek? Kok ngomongnya beda ya? Di lokasi syuting juga beda, di podcast itu beda, ketika kamu sudah menjalin hubungan sama yang ya seseorang itulah', gitu loh," kata Reza.
Di sisi lain, kuasa hukum HAS Pictures, Takwa, mengatakan pihaknya telah mengumpulkan sejumlah keterangan saksi terkait proses produksi film tersebut. Ia juga menyinggung soal kontrak kerja sama antara rumah produksi dengan Ratu Sofya.
"Terkait penggunaan body double dan lain sebagainya, kami sudah meminta keterangan dari beberapa saksi-saksi terkait dengan pekerjaan film ini. Hal-hal yang berkaitan dengan kontraknya antara perusahaan klien kami terkait dengan Safira Ratu Sofya, ini adalah hal-hal yang memang bertentangan dengan hukum secara tidak langsung maupun langsungnya," ungkap Takwa.
Takwa menjelaskan salah satu poin yang dipermasalahkan adalah kewajiban promosi film yang disebut tidak dijalankan.
"Pada saat ada kewajiban promo di mana dia diwajibkan untuk melaksanakan promo baik secara diri pribadinya maupun bersama dengan perusahaan melalui medsosnya dia, maka itu akan merugikan perusahaan ini sendiri," jelasnya.
Karena itu, HAS Pictures mengambil langkah hukum berupa somasi. Dalam somasi tersebut, pihak rumah produksi meminta Ratu Sofya segera menjalankan kewajibannya mempromosikan film.
"Maka perusahaan ini tentu melakukan langkah somasinya dan sekaligus mengundang untuk pertemuan tersebut,Pada saat pertemuan tersebut dihadiri oleh kuasa hukumnya. Pada saat dihadiri kuasa hukumnya, itu pun tidak ada solusi lain gitu," kata Takwa.
"Artinya kita menuntut kepada artis ini, Safira Ratu Sofya, untuk melakukan promosinya segera dan seketika Dalam kesempatan ini kami sampaikan, laksanakan yang menjadi kewajibannya terkait promo baik diri pribadinya melalui medsosnya maupun dengan perusahaan yang telah diberikan list-nya, jadwalnya oleh perusahaan kepada kuasa hukumnya saat itu," pungkasnya.
(pus/nu2)











































